oleh

Dimasa Pandemi Covid-19 Mahasiswi PKL 2 FISIP USU Lakukan Edukasi Nasionalisme Kepada Anak-anak Taman Baca Kampung Nelayan

MitaNews.co.id

Ayu Wulandari dengan Supervisor Sekolah Randa Putra Kasea S.Sos, M. Kesos merupakan mahasiswi PKL 2 Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang melaksanakan praktikum selama satu semester di Taman Baca Kampung Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan di berbagai aspek kehidupan. Begitupun pada bidang pendidikan, pandemi Covid-19 mengharuskan pelajar untuk belajar dari rumah saja sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona.

Kondisi belajar secara daring menimbulkan kejenuhan, ketidakpahaman, serta kemalasan khususnya bagi anak-anak di taman baca yang mayoritas merupakan anak nelayan setempat.

Melalui hasil observasi dan assesment yang dilakukan selama dua minggu sejak pertengahan September 2020, terlihat bahwa kurangnya semangat belajar anak-anak yang kebanyakan datang hanya untuk bermain bersama teman, minimnya wawasan kebangsaan yang dimiliki anak-anak serta ditambah lagi terbatasnya fasilitas dan media belajar yang inovatif yang ada di taman baca.

“Banyak anak-anak di sini yang tidak ingat mengenai sila-sila Pancasila, nama-nama Presiden RI, bahkan mereka lebih menghafal nama artis idola mereka di TV sehingga ketika ditanya nama pahlawan mereka tidak bisa menjawab. Cukup miris melihat kondisi tersebut jangan sampai mereka tidak memiliki wawasan kebangsaan karena mereka merupakan generasi muda penerus bangsa,” ujar Ayu saat diliput awak media.

Atas dasar inilah yang yang membuat Ayu sebagai mahasiswa yang menjalani praktikum di taman baca berinisiatif untuk membuat berbagai perencanaan program guna meningkatkan wawasan kebangsaan serta semangat belajar anak-anak.

Salah satunya dengan melakukan edukasi nasionalisme dengan media belajar yang asyik dan menyenangkan. Salah satu media yang dipakai dalam melakukan intervensi untuk mengedukasi anak-anak ialah dengan membuat berbagai pohon nasionalisme yang digambar di kertas karton untuk memudahkan anak-anak belajar dan mengingat. Pohon nasionalisme berisi materi kebangsaan yang dihias sedemikian rupa dengan daun berwarna-warni yang daunnya hanya dapat ditempel setelah anak-anak menyetor hafalan kebangsaan mereka.

Ayu juga menuturkan bahwa selama menjalani praktikum, ia bersama adik-adik tidak pernah melewati peringatan hari bersejarah seperti: hari sumpah pemuda, hari pahlawan, hari guru bahkan hari ibu sekalipun. “Contohnya di hari pahlawan kami tetap merayakan dengan mengadakan berbagai kegiatan seperti pemberian edukasi tentang seberapa besar jasa pahlawan, lomba membuat bendera merah putih, lomba menghafal nama pahlawan beserta sejarahnya, serta lomba mewarnai gambar pahlawan. Saya berharap walau di tengah pandemi Covid- 19 adik-adik disini tidak boleh lagi tidak tahu kapan peringatan hari pahlawan dan tidak boleh lupa dengan perjuangan pahlawan serta harus memiliki semangat nasionalisme sejak dini,” tegas Ayu.

Metode yang digunakan dalam pengajaran adalah dengan FGD (Focus Group Discussion) dengan membagi anak-anak menjadi dua kelompok saat belajar.

Satu kelompok untuk anak-anak yang belum bisa menulis dan membaca sedangkan satu kelompok lagi untuk anak-anak yang sudah bisa membaca dan menulis. Sebelum memulai belajar anak-anak selalu diberikan ice breaking untuk mencairkan suasana.

Metode FGD digunakan untuk memudahkan diskusi bersama antara edukator dengan adikadik terkait kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran. Pemberian edukasi dilakukan dengan tahapan praktik yaitu: memberikan pemahaman tentang arti pentingnya memiliki rasa cinta tanah air, memberikan fasilitas penunjang belajar seperti buku terkait nasionalisme, pulpen, dan kertas mewarnai, dan memberikan pelatihan public speaking agar adik-adik berani menyampaikan ide dan hafalan dengan percaya diri selama proses pembelajaran.

Selain memberikan edukasi tentang nasionalisme, serangkaian kegiatan lain yang dilakukan diantaranya: 1. Gerbabu ( Gerakan Baca Buku) untuk meningkatkan minat baca. 2. Edukasi Bahaya Covid-19 kepada adik-adik. 3 Cinta Indonesia untuk melestarikan permainan tradisional. 4. Dekor Pondok untuk menghias pondok baca yang polos menjadi lebih berwarna dan informatif.

“Pada 22 September yang lalu, saya juga mengajak adik-adik untuk merayakan hari ibu. Saat itu saya memberikan edukasi dan motivasi terkait hari Ibu dan mengajarkan untuk membuat bunga dari tisu untuk dapat diberikan kepada Ibu mereka sepulang belajar. Peran yang saya jalankan dalam hal ini yaitu: sebagai edukator, sebagai fasilitator dan sebagai motivator,” ujar Ayu

Selama kurang lebih 4 bulan menjalani praktikum cukup banyak dampak maupun peningkatan yang terlihat dari anak-anak diantaranya: 1. Berani tampil melakukan public speaking serta tidak lagi takut berbicara saat proses belajar.

2. Peningkatan keterampilan membaca yang dahulunya mengeja kini sudah mulai lancar dan semakin rajin berlatih membaca. 3. Anak-anak kembali menyukai permainan tradisional seperti: ular tangga, petak umpet, alif pegang yang pada awal praktikum eksistensinya kalah dengan trend Tik Tok.

4. Peningkatan pemahaman akan bahaya Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan seperti mencuci tangan. 5. Semangat belajar yang mulai tinggi dengan tidak jarang meminta diberikan PR walaupun sudah selesai belajar.

Pada kesempatan akhir praktikum (28/12/20), Ayu mengatakan sangat senang melihat berbagai dampak yang cukup signifikan dari anak-anak yang mulai aktif dalam belajar. Saat proses terminasi pada akhir Desember saya juga tidak lupa memberikan motivasi kembali kepada adik-adik untuk terus dapat mempertahankan semangat belajar.

Selanjutnya saya juga melakukan penghiasan kembali taman baca dengan menempelkan berbagai tempelan poster edukatif dan hiasan untuk membuat taman baca menjadi wadah belajar anak yang informatif sekaligus menyenanngkan Selain itu di pojok sebelah kanan taman baca, Benny Rambe selaku penggiat taman baca saat diliput awak media mengatakan sangat mengapresiasi segala kegiatan yang telah dibuat mahasiswa yang menjalani praktikum disini.

Besar harapan walaupun kali ini adalah akhir praktikum semoga adik-adik mahasiswi dapat kembali datang memantau perkembangan anak-anak di sini. Pastinya adik-adik sangat merindukan mereka para mahasiswi yang praktikum karena sudah dianggap sebagai kakak sendiri dan telah banyak melakukan berbagai kegiatan kreatif untuk meningkatkan minat belajar adik-adik disini (SP).

Komentar

News Feed