Dari Sawah untuk Ketahanan Pangan: Vandiko Kawal Modernisasi Pertanian, Taksi Alsintan Ringankan Beban Petani Samosir
SAMOSIR.Mitanews.co.id ||
Di tengah hamparan padi menguning di Desa Sibonor Oppuratus, Kecamatan Nainggolan, suara mesin combine harvester terdengar memecah pagi. Bukan sekadar alat panen biasa, kehadiran mesin modern itu menjadi simbol perubahan pola pertanian di Kabupaten Samosir—dari sistem manual yang menguras tenaga menuju pertanian yang lebih efisien dan produktif.
Perubahan itu terlihat ketika Bupati Samosir Vandiko T. Gultom turun langsung ke sawah bersama petani, Selasa (6/5). Ia tidak hanya menyaksikan proses panen dari kejauhan, tetapi ikut mengoperasikan combine harvester bersama masyarakat. Kehadiran kepala daerah di tengah sawah dinilai menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memastikan bantuan pertanian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.
Turut hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Tumiur Gultom, Kepala Dinas Kominfo Immanuel Sitanggang, serta Kabid Perekonomian Bapperida Rikardo Simbolon.
Combine harvester yang digunakan merupakan bantuan Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui usulan Pemerintah Kabupaten Samosir tahun sebelumnya. Alat tersebut menjadi bagian dari program “Taksi Alsintan”, sebuah konsep pemanfaatan alat dan mesin pertanian secara bersama-sama dengan sistem sewa terjangkau agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat tani.
Berbeda dengan metode panen manual yang membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu panjang, combine harvester mampu menyelesaikan tiga tahapan sekaligus dalam satu proses: memotong padi, merontokkan gabah, dan membersihkan hasil panen. Efisiensi ini dinilai sangat membantu petani dalam menekan biaya produksi sekaligus mempercepat masa panen.
“Hari ini kita turun langsung melihat bantuan dari Kementan benar-benar dipakai masyarakat. Kita ingin alat ini bukan hanya sekadar bantuan simbolis, tetapi benar-benar membantu petani,” ujar Vandiko.
Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi fondasi utama ekonomi masyarakat Samosir. Karena itu, modernisasi pertanian harus terus diperkuat agar petani mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menghadapi tantangan biaya produksi dan keterbatasan tenaga kerja.
Di bawah terik matahari, Vandiko tampak berbincang dengan petani sambil mengoperasikan mesin panen. Suasana tersebut menjadi gambaran pendekatan pembangunan yang ingin dibangun pemerintah daerah—hadir langsung di tengah masyarakat, bukan hanya melalui program di atas kertas.
“Saya senang melihat masyarakat terbantu. Dengan alat ini panen lebih cepat, biaya lebih ringan, dan hasil lebih bersih. Ini yang ingin kita dorong,” katanya.
Vandiko juga menegaskan bahwa alat pertanian tersebut tidak boleh hanya dinikmati kelompok penerima bantuan. Melalui konsep Taksi Alsintan, alat dapat digunakan petani lain yang membutuhkan dengan biaya sewa yang terjangkau. Sistem ini diharapkan menciptakan pemerataan manfaat sekaligus menjaga keberlanjutan penggunaan alat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Tumiur Gultom menjelaskan, hasil penyewaan alat akan dikelola kelompok tani untuk biaya operasional, perawatan, hingga perbaikan mesin. Dengan demikian, kelompok tani tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga didorong lebih mandiri dalam mengelola aset pertanian modern.
“Taksi Alsintan bertujuan memperkuat kemandirian petani. Setelah digunakan di wilayah kelompok penerima, alat bisa disewakan kembali untuk membantu petani lain dan menambah pemasukan kelompok,” jelas Tumiur.
Ia menambahkan, penggunaan combine harvester juga berdampak pada percepatan siklus tanam. Dengan proses panen yang lebih cepat, petani memiliki peluang meningkatkan indeks tanam hingga lima kali panen dalam dua tahun. Saat ini Kabupaten Samosir telah memiliki empat unit combine harvester, dan satu unit di antaranya dioperasikan melalui skema Taksi Alsintan.
Bagi petani, manfaat bantuan tersebut dirasakan secara langsung. Baktiar Sinaga, salah seorang petani setempat, mengaku biaya panen turun drastis dibandingkan metode manual.
“Kalau panen manual, dua rante sawah bisa menghabiskan sekitar Rp800 ribu untuk tenaga kerja. Sekarang dengan combine harvester cukup sekitar Rp200 ribu, lebih cepat dan tetap bisa dipakai meski cuaca hujan,” ujarnya.
Langkah Pemkab Samosir menghadirkan alat pertanian modern menjadi penanda bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan ketahanan pangan, sektor pertanian mulai diposisikan sebagai fondasi penting ekonomi masyarakat desa.
Melalui pendekatan yang menggabungkan dukungan pemerintah pusat, modernisasi alat, dan keterlibatan langsung kepala daerah di lapangan, Samosir mencoba membangun arah baru: bahwa pembangunan sejati tidak hanya lahir dari proyek besar, tetapi juga dari sawah tempat rakyat bekerja, menanam, dan mempertahankan hidupnya.***
Baca Juga :
PW HIMMAH Desak Kapolri Tolak Banding Kompol DK
