oleh

Jelang HUT ke-154, Aktivis Soroti Kegaduhan Elite Politik: Binjai Dinilai di Ambang Kemunduran

-Daerah-484 views

Jelang HUT ke-154, Aktivis Soroti Kegaduhan Elite Politik: Binjai Dinilai di Ambang Kemunduran

BINJAI.Mitanews.co.id ||


Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Binjai ke-154, suasana di Kota Rambutan justru diwarnai kritik tajam dari kalangan aktivis mahasiswa dan masyarakat.

Alih-alih disuguhi capaian pembangunan, publik dinilai lebih banyak menyaksikan kegaduhan politik antara Wali Kota Binjai dan DPRD yang dianggap kontraproduktif terhadap kepentingan rakyat.

Salah satu aktivis Kota Binjai, Oza Hasibuan, menyayangkan sikap para elite pemerintahan yang dinilai masih terjebak dalam konflik internal dan komunikasi politik yang tidak sehat.

Menurutnya, sejumlah kebijakan yang diambil sejak awal kepemimpinan juga dinilai belum berpijak pada prinsip kebijaksanaan serta skala prioritas yang matang.

"Ulang tahun ke-154 seharusnya menjadi momentum refleksi kemajuan, bukan justru menjadi panggung drama politik antara Wali Kota dan DPRD. Rakyat tidak butuh perdebatan, rakyat butuh solusi atas berbagai persoalan kota ini,” tegas Oza dalam pernyataannya.

Soroti Sejumlah Persoalan Krusial
Dalam keterangannya, para aktivis menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dinilai menjadi pekerjaan rumah serius bagi Pemerintah Kota Binjai.

1. Target PAD Dinilai Minim
Pendapatan Asli Daerah (PAD) disebut belum menunjukkan target yang progresif.

Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya inovasi dalam menggali potensi daerah serta belum optimalnya pengawasan terhadap potensi kebocoran pendapatan.

2. Lapangan Kerja Minim
Tingginya angka pengangguran disebut menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi Kota Binjai. Minimnya investasi serta belum maksimalnya program pemberdayaan ekonomi kreatif dinilai membuat generasi muda kesulitan mendapatkan penghidupan di daerah sendiri.

3. Kesejahteraan Rakyat Kecil
Program jaring pengaman sosial, relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL), hingga bantuan bagi masyarakat menengah ke bawah dinilai belum menyentuh akar persoalan, terutama terkait kemiskinan struktural.

4. Infrastruktur Dinilai Reaktif
Aktivis juga menyoroti pola pembangunan infrastruktur yang dianggap hanya bergerak setelah muncul kritik publik atau viral di media sosial. Perbaikan jalan maupun fasilitas umum dinilai belum berjalan berdasarkan perencanaan yang matang.

5. Visi Pembangunan Kurang Terarah
Sejak awal menjabat, arah pembangunan dinilai belum menunjukkan gebrakan yang visioner dan masih terkesan stagnan. Selain itu, penegakan Peraturan Daerah (Perda) juga dianggap belum berjalan tegas dan merata.

6. Isu Koruptif Jadi Sorotan
Maraknya berbagai isu dugaan tindakan koruptif di lingkungan pejabat juga disebut turut mencoreng citra Kota Binjai di mata publik.

Peringatan Keras untuk Pemerintah
Menutup pernyataannya, Oza Hasibuan menegaskan bahwa usia 154 tahun merupakan usia yang matang bagi sebuah kota untuk terus bertumbuh dan berbenah.

Ia mengingatkan agar Wali Kota dan DPRD segera melakukan rekonsiliasi demi kepentingan masyarakat serta memperbaiki kinerja birokrasi.

"Jika sisa masa jabatan hanya diisi dengan kegaduhan politik dan kegagalan mencapai target pembangunan, maka sejarah akan mencatat periode ini sebagai masa kemunduran Kota Binjai,” pungkasnya.***

Baca Juga :
Bupati Asahan Turun Temui Masyarakat Demo Jalan Rusak di Kecamatan Buntu Pane