Menjaga Lanskap Batang Toru, Merawat Rumah Terakhir Orangutan Tapanuli
TAPSEL.Mitanews.co.id ||
Hutan Batang Toru bukanlah sekadar hamparan pepohonan hijau yang membentang di kawasan pegunungan Tapanuli. Jauh di dalamnya terdapat kehidupan yang saling berkaitan. Ada tumbuhan, satwa liar, sumber air, hingga masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada lingkungan sekitar.
Di antara kekayaan hayati itu, orangutan Tapanuli menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian. Satwa dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis itu hanya ditemukan secara alami di kawasan Batang Toru.
Karena itu, menjaga hutan Batang Toru tidak cukup hanya dengan memastikan pohon-pohon tetap berdiri dan menari. Habitat harus tetap berfungsi, sumber makanan tersedia, kawasan aman, dan perubahan kondisi lingkungan dapat diketahui sedini mungkin.
Persoalan itulah yang menjadi salah satu perhatian utama dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di wilayah kerja Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR).
Biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang merupakan salah satu fondasi paling penting bagi keberlangsungan hidup manusia dan stabilitas bumi. Istilah ini merujuk pada variasi seluruh bentuk kehidupan mulai dari gen, spesies, hingga ekosistem.
Bagi PTAR, aspek biodiversitas tersebut ditempatkan sebagai bagian dari siklus kegiatan pertambangan. Pengelolaannya tak hanya dilakukan manakala kegiatan tambang berlangsung, tapi jauh sebelum itu ada perhitungan konferehensif. Mulai tahap perencanaan, konstruksi, operasi, eksplorasi hingga penutupan tambang.
Sebelum pembukaan lahan dilakukan, kondisi flora dan fauna terlebih dahulu diamati. Setelah itu, pengelolaan tanah, pengendalian erosi, penempatan batuan sisa, penanaman tanaman penutup dan pemeliharaan dilakukan secara bertahap.
Pada lahan yang memiliki kemiringan tertentu, PTAR menggunakan teknologi hydroseeding atau metode semprot benih dengan campuran air, pupuk, perekat, dan penutup tanah. Benih menempel sempurna di permukaan lereng, tumbuh seragam, dan cepat menghijau.
Perusahaan yang mulai beroperasi pada 2012 yang mengelola wilayah konsesi dengan luas mencapai 130.252 hektare (1.303 km²) dan luas areal operasional aktual yang digunakan sekitar 646 hektare itu juga mengadakan fasilitas pembibitan atau nursery dengan kapasitas mencapai 72.000 bibit setiap tahun.
Namun, menanam kembali lahan bukanlah satu-satunya pekerjaan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan, bagaimana agar tanaman tumbuh dan kawasan itu kembali memiliki fungsi ekologis.
Karena itu, PTAR pun kemudian membentuk Biodiversity Advisory Panel (BAP) yang melibatkan para ahli dengan latar belakang habitat, fauna, orangutan dan konservasi ekosistem.
Mereka yang tergabung di dalam panel tersebut memberikan masukan terhadap rencana tindakan keanekaragaman hayati sekaligus melihat bagaimana rencana itu diterapkan dalam kegiatan operasional.
Pemantauan dilakukan secara berkala, dan tidak dikerjakan sekali jadi. Di samping itu, workshop juga digelar sedikitnya dua kali dalam setahun. Tujuannya, untuk melihat perkembangan, mengevaluasi pelaksanaan program dan membicarakan persoalan yang ditemukan di lapangan.
Selama sekitar 18 tahun, berbagai survei flora dan fauna serta kajian ilmiah telah dilakukan. Hasil penelitian itu kemudian digunakan sebagai salah satu bahan dalam proses perizinan, pengelolaan biodiversitas dan evaluasi potensi dampak kegiatan pertambangan.
Yang menjadi perhatian utama adalah Orangutan Tapanuli. Spesies yang diakui secara resmi sebagai spesies tersendiri pada 2017. Berdasarkan data yang digunakan dalam materi PTAR, populasi orangutan Tapanuli diperkirakan sekitar 800 individu berdasarkan data 2017.
Angka tersebut menjelaskan mengapa keberadaan setiap individu dan kondisi habitatnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan dan sekaligus dicermati.
Di lapangan, upaya perlindungan terhadap orangutan dimulai sebelum alat berat bekerja. Karyawan dibekali pelatihan untuk mengenali tanda-tanda keberadaan satwa tersebut, kegiatan pembukaan vegetasi dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaannya.
Ada satu langkah lain yang menarik perhatian dalam pengelolaan kawasan. Di mana areal seluas 2.000 hektare yang sebelumnya direncanakan untuk pengelolaan tailing dialihkan menjadi kawasan konservasi dan koridor habitat.
Meski gagasan itu terbilang sederhana, namun pekerjaannya tak sederhana. Yakni, menyediakan ruang yang dapat mendukung keberlangsungan satwa dan tumbuhan, termasuk spesies yang terancam punah.
Vegetasi asli ditanam kembali. Pohon-pohon buah dipilih untuk menyediakan sumber pangan bagi satwa. Pengamanan kawasan dilakukan melalui patroli, termasuk dengan melibatkan masyarakat.
Tak sekadar itu, kawasan juga harus secara terus menerus dipantau. Sebab, hutan yang terlihat hijau, bukan suatu jaminan habitatnya dalam kondisi baik. Satwa butuh makanan, tempat berlindung, ruang bergerak dan kondisi lingkungan yang relatif aman.
Dengan kata lain, konservasi atau upaya pemeliharaan, perlindungan, dan pengelolaan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan lingkungan hidup serta sumber daya alam, bukan sekadar persoalan berapa hektare kawasan yang diberi label sebagai kawasan lindung.
Yang jauh lebih penting adalah, apa dan bagaimana siklus kehidupan yang terjadi di dalamnya dari waktu ke waktu. Dan untuk memahami perubahan itu, PTAR juga membangun Research Station atau pos penelitian keanekaragaman hayati.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung penelitian mengenai orangutan Tapanuli dan berbagai spesies lainnya. Kapasitasnya disebut dapat menampung hingga 30 peneliti.
Harapannya jelas, kawasan Batang Toru tidak hanya menjadi lokasi konservasi semata, akan tetapi juga sebagai tempat lahirnya pengetahuan tentang ekosistemnya sendiri.
Peneliti dari dalam bahkan luar negeri sekalipun dapat melakukan kajian, mengumpulkan data dan membandingkan temuan dari waktu ke waktu. Sebab, hampir dapat dipastikan bahwa ekosistem tidak pernah benar-benar diam.
Populasi satwa bisa berubah. Vegetasi dapat tumbuh atau berkurang. Pola pergerakan satwa dapat bergeser. Kondisi habitat pun bisa mengalami perubahan yang tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Atas dasar itulah, data dan monitoring menjadi krusial.
Dari seluruh rangkaian itu, satu hal yang menjadi kesimpulan dan sekaligus fokus yang tidak boleh diabaikan. Konservasi Batang Toru, butuh kolaborasi berbagai elemen dan bukan pekerjaan satu pihak.
Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan. Perusahaan punya tanggung jawab atas kegiatan di wilayah kerjanya. Peneliti suplai pengetahuan. Organisasi konservasi bawa pengalaman lapangan. Sedangkan masyarakat, menjadi bagian penting karena hidup paling dekat dengan bentang alam tersebut.
Kerja sama dari berbagai komponen itu, masyarakat, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi konservasi internasional, menjadi bagian dari pendekatan yang dilakukan PTAR.
Semua pihak tanpa terkecuali memiliki kepentingan dan tanggung jawab yang sama. Yakni, memastikan ekosistem tetap berjalan dan keanekaragaman hayati tidak kehilangan ruang hidupnya.
Sehingga pada akhirnya, menjaga hutan Batang Toru bukan sebatas bicara mengenai menyelamatkan satu jenis satwa. Tetapi langkah dan upaya konkret dalam mempertahankan sebuah rumah.
Rumah bagi orangutan Tapanuli, berbagai jenis flora dan fauna, sekaligus bagian dari lanskap yang selama ini menopang kehidupan manusia di sekitarnya. Rumah seperti itu tak cukup hanya dijaga dengan papan nama atau batas kawasan.
Dibutuhkan pengetahuan, pengawasan, kerja lapangan dan komitmen yang dilakukan terus-menerus secara nyata untuk mewujudkan rumah nyaman itu.
Karena ketika perubahan datang perlahan, sering kali yang terlihat lebih dulu bukanlah kerusakan besar, melainkan tanda-tanda kecil yang hanya bisa dibaca jika ada orang yang terus mengamati secara partisipatif.***




















