oleh

Transaksi Festival Tao Toba Joujou Tembus Rp6 Miliar, Wartawan Pertanyakan Rincian Manfaat dan Kontribusi untuk Samosir

-Daerah-498 views

Transaksi Festival Tao Toba Joujou Tembus Rp6 Miliar, Wartawan Pertanyakan Rincian Manfaat dan Kontribusi untuk Samosir

SAMOSIR.Mitanews.co.id ||


Rilis Pemerintah Kabupaten Samosir melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terkait suksesnya Festival Tao Toba Joujou 2026 menyebut transaksi digital selama kegiatan menembus Rp6 miliar lebih, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga, Riza Putera, dalam closing ceremony Festival Tao Toba Joujou 2026 di Waterfront City Pangururan, Sabtu (8/8/2026).

Sebanyak 85 UMKM disebut terlibat dalam festival yang diselenggarakan Bank Indonesia Sibolga tersebut.

Dari sisi penguatan UMKM dan digitalisasi transaksi, angka Rp6 miliar tentu merupakan capaian yang menarik dan layak diapresiasi.

Namun, ketika angka tersebut dipublikasikan kepada masyarakat melalui rilis resmi pemerintah daerah, muncul pertanyaan lanjutan yang juga penting dijelaskan secara terbuka.

Rp6 miliar tersebut merupakan total transaksi seluruh kegiatan atau total penjualan seluruh UMKM?

Berapa bagian yang benar-benar menjadi omzet UMKM?

Berapa UMKM yang berdomisili dan memiliki usaha di Kabupaten Samosir?

Dan yang tidak kalah penting, berapa manfaat ekonomi langsung yang masuk kepada masyarakat dan daerah Samosir?

Jangan Berhenti pada Angka Rp6 Miliar

Seorang warga Pangururan yang ditemui wartawan di salah satu kedai kopi mempertanyakan hal tersebut.

“Kalau disebut transaksi Rp6 miliar, apakah semua UMKM yang berjualan itu memang pelaku usaha dari Samosir?” katanya, sembari mempertanyakan apakah angka tersebut sudah dirinci berdasarkan asal dan jenis usaha.

Pertanyaan tersebut bukan berarti meragukan capaian yang disampaikan Bank Indonesia.

Justru sebaliknya, semakin besar angka yang disampaikan kepada publik, semakin penting pula penjelasan mengenai sumber dan komponennya.

Sebab transaksi Rp6 miliar tidak otomatis berarti pendapatan bersih Rp6 miliar bagi UMKM Samosir, apalagi otomatis menjadi pendapatan bagi Pemerintah Kabupaten Samosir.

Karena itu, publik layak mendapatkan data yang lebih terukur.

Bagaimana dengan Kontribusi kepada Daerah?

Rilis Kominfo menyebut festival mampu menciptakan ruang ekonomi bagi UMKM dan mendorong digitalisasi transaksi.

Namun, dari sisi kepentingan daerah, masih ada pertanyaan yang belum dijelaskan secara rinci.

Berapa penerimaan atau kontribusi yang diperoleh Kabupaten Samosir dari penyelenggaraan event tersebut?

Apakah terdapat pembayaran atau bentuk kerja sama pemanfaatan lokasi Waterfront City?

Apakah ada retribusi, sewa, kontribusi kebersihan, atau bentuk penerimaan daerah lainnya sesuai mekanisme yang berlaku?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena kegiatan berlangsung di wilayah dan ruang publik Kabupaten Samosir.

Jika memang tidak ada penerimaan langsung kepada daerah, tentu hal tersebut juga bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi.

Publik cukup diberi penjelasan: apa mekanismenya dan mengapa demikian.

Dari Mana Pembiayaan Event?

Pertanyaan lain yang juga layak dijelaskan adalah mengenai pembiayaan penyelenggaraan Festival Tao Toba Joujou 2026.

Berapa total biaya kegiatan?

Siapa yang menanggung pembiayaannya?

Apakah seluruh pembiayaan berasal dari Bank Indonesia dan mitra penyelenggara?

Atau terdapat dukungan pembiayaan dari Pemerintah Kabupaten Samosir melalui APBD?

Jika ada dukungan APBD, berapa besarannya dan dalam bentuk kegiatan apa?

Jika tidak ada, maka informasi tersebut juga penting disampaikan kepada masyarakat agar publik memahami bahwa capaian transaksi Rp6 miliar tersebut lahir dari kegiatan yang pembiayaannya berasal dari pihak penyelenggara dan mitra sesuai mekanisme yang berlaku.

Transparansi tidak hanya berbicara tentang keberhasilan, tetapi juga tentang proses dan pembiayaannya.

Kominfo Jangan Hanya Menjadi Penyampai Rilis

Di sisi lain, sejumlah wartawan yang bertugas di Kabupaten Samosir menilai Dinas Kominfo memiliki posisi strategis dalam membangun hubungan komunikasi antara pemerintah, penyelenggara event dan insan pers.

Kominfo tidak cukup hanya meneruskan rilis keberhasilan sebuah kegiatan kepada wartawan.

Lebih dari itu, Kominfo diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi sehingga kegiatan yang berlangsung di Samosir dapat diberitakan secara luas oleh media yang selama ini aktif mengangkat berbagai potensi daerah.

Sejumlah wartawan bahkan meminta agar Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Samosir dapat berkomunikasi lebih aktif dengan para penyelenggara event mengenai pentingnya keterlibatan media lokal dalam peliputan.

Penyelenggara tentu berhak membawa tim dokumentasi dan media partner sendiri.

Namun media lokal yang selama ini bertugas di Samosir juga jangan sampai kehilangan ruang untuk menjalankan fungsi jurnalistiknya.

Para wartawan lokal inilah yang setiap hari berada di lapangan, mengangkat potensi pariwisata, budaya, UMKM, pembangunan dan berbagai persoalan masyarakat Samosir.

Promosi daerah tidak hanya berlangsung ketika event besar datang.

Promosi itu berlangsung setiap hari melalui pemberitaan.

Jangan Sampai Event Datang, Pers Lokal Ditinggalkan

Para wartawan berharap setiap penyelenggara event yang datang ke Samosir memahami bahwa media lokal bukan sekadar pelengkap kegiatan.

Mereka merupakan bagian dari ekosistem informasi daerah.

Karena itu, jika penyelenggara memiliki wartawan atau media yang ditunjuk untuk dokumentasi, hal tersebut dipersilakan.

Namun, jangan sampai keberadaan media yang dibawa penyelenggara kemudian menjadi alasan untuk membatasi wartawan lokal yang hendak melakukan peliputan.

Jika ada pembatasan akses ke panggung karena alasan keamanan, teknis atau kapasitas, tentu dapat dipahami.

Tetapi mekanismenya harus jelas dan berlaku secara wajar.

Wartawan tidak meminta perlakuan khusus.

Mereka hanya meminta ruang untuk menjalankan tugas jurnalistik.

Keberhasilan Event Harus Terukur

Festival Tao Toba Joujou 2026 boleh disebut berhasil dari sisi capaian transaksi digital, keterlibatan UMKM, promosi budaya dan kunjungan masyarakat.

Namun keberhasilan sebuah event akan jauh lebih kuat jika indikatornya dapat dibuka secara lengkap.

Berapa transaksi?

Berapa UMKM?

Berapa UMKM lokal Samosir?

Berapa omzet?

Berapa biaya kegiatan?

Berapa kontribusi penyelenggara?

Berapa penerimaan daerah?

Dan apa dampak ekonominya bagi masyarakat setelah kegiatan berakhir?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mengurangi keberhasilan festival.

Justru sebaliknya.

Semakin transparan datanya, semakin kuat pula klaim keberhasilannya.

Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan cerita bahwa sebuah event berlangsung meriah.

Masyarakat membutuhkan bukti bahwa kemeriahan tersebut benar-benar menghasilkan manfaat.

Kominfo Diharapkan Membuka Data, Bukan Sekadar Membuka Rilis

Rilis resmi pemerintah daerah menyebut bahwa Festival Tao Toba Joujou merupakan bentuk kolaborasi untuk memperkuat UMKM, digitalisasi dan pariwisata.

Semangat tersebut tentu patut didukung.

Namun ke depan, publik berharap rilis pemerintah tidak berhenti pada kalimat “sukses” dan angka transaksi.

Data keberhasilan perlu disertai konteks.

Sebab Rp6 miliar bukan sekadar angka untuk menjadi judul berita.

Angka tersebut harus bisa menjawab pertanyaan:

Siapa yang memperoleh manfaat?

Dari mana transaksi itu berasal?

Berapa yang berputar di Samosir?

Dan apa yang diperoleh pemerintah daerah dari kegiatan tersebut?

Di sisi lain, hubungan antara penyelenggara event dan pers lokal juga perlu diperkuat.

Pemerintah daerah melalui Kominfo diharapkan mampu menjadi jembatan, bukan sekadar penerus informasi.

Karena ketika sebuah event datang ke Samosir, yang dibutuhkan bukan hanya panggung yang meriah.

Dibutuhkan pula keterbukaan informasi, ruang bagi pers lokal, kesempatan bagi UMKM lokal, serta manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat dan daerah.

Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan event bukan hanya berapa besar transaksi yang tercatat, tetapi juga berapa besar manfaat yang benar-benar tinggal di Samosir setelah panggung dibongkar.***

Baca Juga :
Semarak HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Wali Kota Sibolga Lepas Ratusan Pelajar dalam Lomba Lari 3K dan 5K

News Feed