oleh

Bobby Nasution “Semprot” Pemkab Tapteng: Data Lambat, Huntara Tak Kunjung Jadi, Warga Terpaksa Bangun Rumah Sendiri

-Daerah-37 views

Bobby Nasution “Semprot” Pemkab Tapteng: Data Lambat, Huntara Tak Kunjung Jadi, Warga Terpaksa Bangun Rumah Sendiri

MEDAN.Mitanews.co.id ||


Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyoroti Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Pemkab Tapteng) karena lambat menyelesaikan administrasi korban banjir.

Keterlambatan tersebut langsung berdampak pada mandeknya pembangunan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) bagi para koran banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Bobby menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sudah berkali-kali meminta kepada Pemkab Tapanuli Tengah agar melengkapi data para korban secara cepat dan terstruktur. Ia bahkan telah menurunkan tim khusus untuk membantu Pemkab Tapanuli Tengah guna menyelesaikan proses tersebut.

“Kami sudah sampaikan langsung kepada Bupati Tapteng. Kami juga menempatkan asisten di sana untuk memastikan pendataan berjalan. Semua data harus terkonfirmasi,” kata Bobby usai menghadiri rapat paripurna DPRD Sumatera Utara, pada Senin (30/3/2026).

Lebih lanjut, Bobby Nasution menjelaskan bahwa pemerintah hanya bisa menyalurkan bantuan jika data korban telah lengkap dan sah. Oleh sebab itu, Bobby telah meminta kepada Pemkab Tapteng untuk segera merampungkan dokumen penting seperti KTP, KK, serta verifikasi data melalui Surat Keputusan (SK) kepala daerah.

“Semua bantuan itu butuh data yang disahkan. Sekarang tinggal Tapteng saja yang datanya belum lengkap,” tegas Bobby.

Selain itu, Bobby juga memastikan pemerintah terus menyiapkan bantuan, mulai dari Huntara, Huntap, hingga Dana Tunggu Hunian. Namun, pemerintah tidak bisa mencairkan bantuan tersebut tanpa dasar administrasi yang jelas.

“Bantuan selalu tersedia. Tapi harus ada data yang lengkap dan disahkan,” ungkap Bobby.

Sementara itu, kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang berbeda. Sebab, warga sudah meninggalkan area pengungsian di Simpang Tanah Merah, Kelurahan Hutanabolon-Sipange, Kecamatan Tukka.

Area tersebut kini hanya menyisakan pasir, bambu bekas tenda, dan bangunan fasilitas umum yang sudah tidak terpakai lagi. Bahkan, sejumlah bangunan Huntara juga terbengkalai dan tidak lagi digunakan warga.

Akhirnya Warga Ambil Inisiatif Bangun Huntara Sendiri

Karena tidak kunjung mendapat kepastian dari Pemkab Tapanuli Tengah, warga akhirnya mengambil inisiatif sendiri. Mereka membangun Huntara secara mandiri di sekitar lokasi pengungsian lama tersebut.

Di sebuah gang yang mereka beri nama “Gang Bersama”, warga bergotong royong mendirikan tujuh unit hunian sederhana dari kayu bekas banjir, seng, dan plastik.

Salah seorang warga setempat mengatakan bahwa mereka membangun tempat tinggal itu secara mandiri setelah keluar dari pengungsian.

“Kami bangun sendiri rumah ini. Kami pindah dari pengungsian Kemensos,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa aparat sebelumnya telah meminta warga menandatangani surat pernyataan untuk meninggalkan tenda pengungsian dan mencari tempat tinggal sendiri.

“Mereka minta kami bersedia keluar dari tenda. Katanya akan dibangun huntara, tapi sampai sekarang tidak ada,” ujarnya.

Ia pun mengaku bahwa pemerintah sempat memberikan Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600 ribu. Namun, ia menilai jumlah itu tidak cukup untuk menyewa rumah.

“Uangnya tidak cukup untuk ngontrak. Jadi kami bangun sendiri,” katanya.

Kini, sekitar 50 orang tinggal di tujuh unit Huntara mandiri tersebut. Warga terus saling membantu membangun tempat tinggal mereka dengan bahan seadanya. Mereka juga menghadapi kendala lain, terutama belum tersedianya listrik dan air.

“Kami harap pemerintah segera pasang listrik dan sediakan air bersih,” harapnya.

Ia juga menambahkan, bahwa warga membangun hunian tersebut secara bertahap. Pada awalnya, mereka hanya tidur di atas tenda sebelum mendapatkan bahan bangunan.

“Yang penting kami bisa istirahat dulu,” katanya.***

Baca Juga :
SPPG di Sergai Kembali Layani Penerima Manfaat

News Feed