oleh

Bubur Asyuro Jadi Tradisi Masyarakat Palas Peringati 10 Muharram 

Padanglawas, MitaNews, –

Bubur Asyuro bagi masyarakat Padanglawas ( Palas)  sudah menjadi tradisi rutin Tahunan untuk menyambut 10 Muharram Hijriyah. 

Penyambutan 10  Muharram, tidak kalah penting dengan hari besar lainnya. Sudah semacam menjadi kewajiban Masyarkat didaerah ini untuk memasak bubur Asyuro. 

Pada hari 10  Muharraam, Selain melakukan Puasa Sunnah, masyarakay Palas ,utamanya barisan Ibu-Ibu anak Gadis dan perkumpulan wirit Yasin, Secara bersama dan kompak mengumpulkan segala jenis buah-buahan untuk dijadikan bahan bubur Asyuro. 

Seperti yang terjadi hari Kamis tadi (20/09/2018),disetiap sudut lorong lingkungan, Dusun dan Desa, tidak ada yang tidak disibukan dari kegiatan mempwrsiapkan masak Bubur Asyuro. 

Sejumlah Ibu-Ibu ,ketika ditemui Awak Media ini mengatakan, kegiatan memasak bubur Asyuro sudah menjadi tradisi sejak  Zaman Nenek moyang kami. 

Bubur Asyuro Jadi Tradisi Masyarakat Palas Peringati 10 Muharram 

Rasa ada yang kurang, jika pada Bulan Asyuro (10 Muharram), kami tidak memasak bubur Asyuro. Bagi Masyarakat Padanglawas yang Mayoritas Muslim, Menyambut atau meramaikan 10 Muharram tidak kalah penting dengan Bulan Idul Fitri. Berbedaannya, kalau Idul Fitri memikirkan Bajubaru dan makanan tradisi Alame ( Dodol) serta ibadah Idul Fitri. 

Didaerah Palas,tradisi paling Unik menyambut  Idul Fitri maupun 10 Muharram nemiliki ciri khas  yang boleh jadi dimiliki oleh masyarakat daerah lain. 

Semacam menjadi kewajiban terlihat, pada hari Raya  Idul Fitri mempersiapkan Alame, pada 10 Muharram memasak Bubur Asyuro. 

Pada 10 Muharram, Selain masyarakat ramai bahkan libur beraktivitas, hanya untuk memasak bubur Syuro. Bahkan, bukan hanya dikalangan masyarakat, di Pondok Pesantren Sendiri sudah melakukan kegiatan yang sama. 

Menyangkut bahan masakan, ” Bahan masakan diambil dari segala macam tumbuhan ,diramu jadi satu untuk masak menjadi Bubur yang diberi nama ” Bubur Asyuro “.

Seperti penjelasan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhklishin ,H.  Rizal Efendy Dly, SPd. I. MM dalam pemaparan berita sebelumnya di MitaNews ini. 

Masyarakat  di Desa – desa juga memiliki alasan yang sama memasak bubur Asyuro setiap 10 Muharram Hijriyah. Tanggal 10 Muharram merupakan hari mengenang sejarah  Nabi Nuh ketika menghadapi banjir, serta berjuang hidup selama 40 hari di Atas Kapal bersama Kaumnya. 

Dalam peristiwa itu,  dalam sejarah Islam, bahwa setelah 40 hari Nabi Nuh bersama Kaumnya kehabisan makanan, sehingga dikumpul segala jenis tumbuhan dan dijadikan bubur untuk dijadikan makanan Kaum Nabi Nuh.Dengan Demikian, peristiwa yang dialami Nabi Nuh beserta Kaumnya  perlu dilestarikan atas kandungan Hikmanya. 

Dari peristiwa itu , dapat diambil amanahnya. ”  10 Muharram merupakan peristiwa yang diajarkan Allah membina kekompakan dan kerjasama sesama makhluk Allah”., 

Mudah-mudahan,Narasi singkat tradisi Bubur Asyura merupakan kegiatan rutin tahunan bagi Masyarakat  bisa menjadi mamfaat bagi kita semua. Aamiin…. (Sunardi S Daulay, S. Ag). 

Komentar

News Feed