Bukan Jumawa, Tapi Jiwa Besar: Sikap Rahudman Harahap atas Pengakuan Bupati Batu Bara
Oleh Ir Zulfikar Tanjung
Mitanews.co.id ||
Dalam kultur birokrasi, hubungan antara senior dan junior kerap menjadi penentu arah perjalanan karier seorang pejabat publik. Tidak sedikit junior yang berutang budi pada bimbingan para pendahulu, namun tidak banyak pula senior yang mampu menyikapi pengakuan itu dengan jiwa besar.
Di titik inilah sosok H. Rahudman Harahap, mantan Wali Kota Medan sekaligus birokrat kawakan, tampil berbeda.
Bupati Batu Bara, H. Baharuddin Siagian, SH, M.Si, secara terbuka menyampaikan rasa terima kasih kepada para sesepuh birokrat yang telah membentuk karakter kepemimpinannya.
Dalam forum yang dihadiri lebih dari 50 birokrat senior LP4SU, Baharuddin dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya ditempa oleh teladan, arahan, dan bimbingan para pemimpin yang pernah menjadi atasannya ketika masih bertugas di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Nama Rahudman Harahap disebut sebagai salah satu figur yang berperan penting.
Menariknya, pengakuan tulus dari seorang junior itu tidak lantas membuat Rahudman larut dalam rasa jumawa atau menempatkan dirinya di menara gading. Sebaliknya, ia menyikapinya dengan penuh hormat dan apresiatif.
“Bupati Baharuddin ini mentalnya baik, dibentuk dari kebiasaannya menghormati dan mendengar. Saya optimis beliau akan menjadi pemimpin yang disenangi masyarakat Batu Bara, karena ikhlas bekerja dan berorientasi pada kemajuan rakyat,” ujar Rahudman.
Sikap ini memperlihatkan bahwa Rahudman tidak melihat dirinya sebagai sosok yang harus diagungkan, melainkan sebagai seorang kakak yang justru ikut bangga atas keberhasilan adiknya.
Alih-alih membesarkan diri, ia membesarkan hati juniornya. Alih-alih menonjolkan jasa pribadi, ia justru menekankan kualitas penerusnya. Di sinilah letak jiwa besar seorang senior: mampu mengapresiasi pengakuan dengan rendah hati, sekaligus memberikan dorongan moral agar juniornya semakin bersemangat dalam memimpin.
Bagi Rahudman, pengakuan Baharuddin bukanlah penghormatan pribadi, melainkan cerminan nilai luhur dalam birokrasi: bahwa generasi penerus mesti menghormati senior, sementara senior menanggapinya dengan kasih sayang, kebesaran jiwa, dan sikap kesatria.
Pandangan inilah yang membuat Rahudman, yang sudah malang melintang di pemerintahan mulai dari Sekdakab Tapanuli Selatan, Asisten di Pemprov Sumut, hingga Wali Kota Medan, tetap dihormati lintas generasi birokrat.
Kita melihat bagaimana interaksi dua figur ini melahirkan harmoni: junior yang terbuka pada masukan dan senior yang tidak terjebak dalam sikap merasa lebih tinggi. Kombinasi ini menjadi teladan langka, sekaligus modal besar bagi kepemimpinan daerah.
Bila hubungan semacam ini terus terjaga, bukan mustahil Batu Bara akan melangkah lebih jauh di bawah kepemimpinan Baharuddin, dengan dukungan moral para sesepuh birokrat yang berhati lapang seperti Rahudman Harahap.
Di tengah dunia birokrasi yang sering kali keras dan penuh ego, sikap rendah hati junior dan jiwa besar senior adalah energi yang menyejukkan.
Dari Batu Bara, kita belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal visi dan kebijakan, tetapi juga tentang kearifan menghargai perjalanan, menghormati yang lebih dahulu, dan membesarkan yang datang kemudian.(Penulis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers)***
Baca Juga :
Solidaritas Menggetarkan, Ratusan Ojol Doakan Affan Lalu Pulang Bawa Beras