oleh

Bupati Batu Bara Ajak Masyarakat Perantauan Meriahkan Pesta Tapai, Warisan Budaya Pesisir Melayu

-Daerah-262 views

Bupati Batu Bara Ajak Masyarakat Perantauan Meriahkan Pesta Tapai, Warisan Budaya Pesisir Melayu

BATU BARA.Mitanews.co.id ||


Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga Batu Bara di perantauan serta masyarakat Sumatera Utara secara umum, untuk turut memeriahkan Tradisi Budaya Pesta Tapai, sebuah warisan budaya Melayu pesisir yang telah hidup ratusan tahun dan terus dijaga keberlanjutannya hingga kini.

Ajakan tersebut disampaikan Baharuddin saat diwawancarai di Batu Bara, Rabu (7/1/2026), didampingi Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal, S.E., M.AP., serta Plt Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Widaruna, S.E.

Menurut Baharuddin, Pesta Tapai bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang kolektif yang merekatkan sejarah, identitas, dan kebersamaan masyarakat Melayu Batu Bara, khususnya menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan.

“Pesta Tapai adalah warisan leluhur yang harus kita rawat bersama. Kami mengajak masyarakat Batu Bara, termasuk yang berada di perantauan, untuk pulang, hadir, dan merasakan kembali denyut kebudayaan pesisir yang menjadi jati diri daerah ini,” ujar Baharuddin.

Rencananya, Pesta Tapai Tahun 2026 akan digelar menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan, 17 Januari - 17 Februari 2026, berpusat di Desa Masjid Lama dan Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi.

Dua kawasan itu secara historis menjadi pusat tumbuh dan berkembangnya tradisi ini sejak era Kedatukan Pangkalan Pesisir Negeri Batu Bara.

Dalam pelaksanaannya, rangkaian acara akan diisi dengan pembukaan adat Melayu, pertunjukan tari-tarian tradisional, silat khas Melayu, serta aktivitas pasar rakyat yang menampilkan tapai, lemang, dan kuliner khas Batu Bara lainnya.

Pemerintah Kabupaten Batu Bara melalui Disporabudpar juga tengah mematangkan konsep agar Pesta Tapai ke depan dikemas lebih luas sebagai festival budaya, terintegrasi dengan tradisi Mogang dan Mandi Belimau, sehingga tidak hanya menjadi penanda spiritual menyambut Ramadhan, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan.

*(Masa Kerajaan)*

Tradisi yang pada mulanya dikenal sebagai Kenduri Tapai itu berakar dari masa Kerajaan atau Kedatukan Pangkalan Pesisir Negeri Batu Bara pada abad ke-18, ketika Datuk Muda Jalil bergelar Datuk

Semuangsa Pertama memperkenalkan tapai sebagai jamuan khas bagi para pedagang lembu dan kerbau dari wilayah Asahan dan Simalungun. Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi pesta rakyat yang terbuka dan inklusif.

Bupati Baharuddin menegaskan, Pemerintah Kabupaten Batu Bara memandang Pesta Tapai sebagai aset budaya sekaligus pengungkit ekonomi masyarakat.

Aktivitas perdagangan tapai, lemang, dan aneka kuliner tradisional terbukti memberikan dampak signifikan bagi pendapatan warga, terutama pelaku UMKM.

“Nilai ekonominya nyata. Ada pedagang yang mampu memperoleh pendapatan belasan hingga puluhan juta rupiah selama pelaksanaan Pesta Tapai. Inilah bukti bahwa budaya dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan,” katanya.

*(Sosial)*

Wakil Bupati Syafrizal menambahkan, Pesta Tapai juga memiliki fungsi sosial yang kuat sebagai media silaturahmi, pendidikan budaya bagi generasi muda, serta sarana memperkuat integrasi sosial antarwarga.

Sementara itu, Plt. Kadisporabudpar Kabupaten Batu Bara Widaruna, S.E. menyampaikan bahwa pihaknya tengah mendorong pengembangan Pesta Tapai agar dikemas lebih luas sebagai festival budaya berkelanjutan, termasuk mengintegrasikan tradisi Mogang dan Mandi Belimau yang selama ini menyertai penyambutan Ramadhan di wilayah pesisir Batu Bara.

“Ke depan, Pesta Tapai tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga ikon pariwisata budaya yang berkelanjutan. Dokumentasi, promosi digital, serta keterlibatan lintas etnis akan kami dorong agar tradisi ini semakin dikenal luas dan diakui sebagai warisan budaya takbenda,” ujar Widaruna.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, Pesta Tapai diharapkan terus tumbuh sebagai simbol syukur, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya Melayu Batu Bara—sebuah warisan yang tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan dari generasi ke generasi.(MN.01)***

Baca Juga :
Ketua SPSI Riau bersama Ketua EO dan Koordinator Club Modeling Lakukan Pemantapan Jelang Festival Melayu Day 2026

News Feed