oleh

Dari Titik Nol Habatahon, Saut Limbong Menjaga Makna Salib Kehidupan

-Daerah-96 views

Dari Titik Nol Habatahon, Saut Limbong Menjaga Makna Salib Kehidupan

SAMOSIR.Mitanews.co.id ||


Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di perbukitan Huta Parik Sabungan. Dari kejauhan, sebuah salib raksasa menjulang, perlahan menampakkan wujudnya di antara hijau tanah Batak.

Bagi Saut Limbong, pemandangan itu bukan sekadar bangunan beton dan besi. Di sanalah, menurutnya, sejarah, iman, dan budaya bertemu.

“Saya menyaksikan sendiri dari awal,” kata Saut, tokoh masyarakat Kenegerian Limbong, saat ditemui jurnalis, Minggu (26/1/2026). “Bukan hanya proses pembangunannya, tetapi juga makna yang dibawanya.”

Saut masih mengingat betul hari ketika pembangunan Salib Kehidupan—atau Silang Hangoluan—dimulai pada Maret 2025. Tidak ada alat berat yang bekerja lebih dulu. Yang ada justru doa dan ritual adat. Para tetua adat berkumpul. Raja Bius Sipitu Tali, Bius Sagala Raja, serta Ketua Lembaga Adat dan Budaya memimpin prosesi.

“Bagi kami, membangun di titik nol Habatahon tidak boleh sembarangan,” ujarnya. “Ini tanah asal. Setiap langkah harus dimulai dengan penghormatan.”

Salib Kehidupan berdiri di kawasan yang dikenal sebagai titik nol budaya Batak, tak jauh dari Tugu Limbong Mulana. Bagi Saut, lokasi itu bukan pilihan kebetulan. Di sanalah, menurut cerita turun-temurun, nilai kehidupan orang Batak bermula.

Ia kemudian berbicara tentang Dalihan Na Tolu—falsafah hidup orang Batak yang menekankan hormat kepada hula-hula, kehati-hatian kepada dongan tubu, dan kasih kepada boru. “Kalau dipahami sungguh-sungguh, intinya adalah kasih,” katanya pelan.

Karena itu, ketika mendengar rencana pembangunan Salib Kehidupan setinggi 45 meter, Saut merasa maknanya selaras. “Salib adalah simbol kasih. Budaya Batak sejak dulu juga hidup dalam kasih. Jadi, kehadirannya di sini terasa pas.”

Pembangunan Salib Kehidupan, menurut Saut, adalah inisiatif Parsadaan Pomparan Limbong Mulana Indonesia (PPLMI). Di baliknya ada nama Bernhard Limbong, putra daerah Kenegerian Limbong, yang menanggung pembiayaan pembangunan.

“Sudah hampir Rp30 miliar yang dikeluarkan sampai sekarang,” ujar Saut. Angka itu mencakup pembangunan fisik tugu, perencanaan, hingga pengaspalan jalan desa sepanjang sekitar 500 meter menuju lokasi. “Semua ditanggung sendiri oleh beliau,” tambahnya.

Bagi Saut, hal itu bukan sekadar soal angka. Ia melihatnya sebagai bentuk kepedulian terhadap Bona Pasogit. “Tidak semua orang yang berhasil ingat untuk kembali membangun tanah asalnya,” katanya.

Kini, ketika pembangunan memasuki tahap akhir, Saut mulai membayangkan masa depan kawasan itu. Ia percaya Salib Kehidupan akan menjadi tujuan wisata religi baru di Samosir—bukan sekadar tempat berfoto, tetapi ruang refleksi.

“Orang datang bukan hanya melihat tinggi salibnya,” ujarnya. “Tapi merasakan nilai kasih, keadilan, dan kebersamaan.”

Ia berharap kehadiran Salib Kehidupan membawa dampak nyata bagi warga sekitar. Warung kecil, penginapan sederhana, hingga pemandu lokal bisa tumbuh seiring meningkatnya kunjungan. “Kalau ekonomi bergerak, masyarakat ikut sejahtera,” katanya.

Namun bagi Saut, yang terpenting bukan itu. Ia menatap salib yang hampir rampung, lalu berkata, “Di titik nol ini, orang Batak memulai hidup dengan nilai kasih. Salib Kehidupan mengingatkan kami untuk kembali ke sana.”

Di tengah perubahan zaman dan pembangunan yang terus berjalan, Saut Limbong memilih berdiri sebagai saksi—menjaga agar Salib Kehidupan bukan hanya menjadi bangunan tertinggi, tetapi juga pengingat makna hidup yang paling dasar.***

Baca Juga :
Apel Gabungan Pemko Binjai, Wali Kota Tekankan Peran Strategis PUTR Dukung Pembangunan 2026