oleh

Di Balik Empat Lembu Bobby Nasution: Ketika Tindakan Melebihi Kata-Kata

-Daerah-76 views

Di Balik Empat Lembu Bobby Nasution: Ketika Tindakan Melebihi Kata-Kata

Mitanews.co.id ||


Dalam dunia politik dan pemerintahan modern, tidak sedikit pemimpin yang membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pidato panjang, slogan populis, atau seremoni yang dirancang sedemikian rupa untuk membentuk citra.

Namun, publik sesungguhnya lebih mudah percaya pada tindakan nyata dibandingkan kata-kata.

Barangkali itulah yang kini sedang diperlihatkan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dalam membangun hubungan dengan kalangan wartawan dan insan media di daerah ini.

Momentum Iduladha 1447 Hijriah menjadi salah satu penanda yang paling terasa. Melalui Forum Wartawan Pemprov Sumut (FWP) yang diketuai Syaifullah Defaza, Bobby Nasution menyerahkan empat ekor lembu kurban untuk wartawan dan insan media di Sumatera Utara.

Dua ekor merupakan hewan kurban pribadi Bobby Nasution, sedangkan dua ekor lainnya diserahkan atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 400 wartawan dan insan media, termasuk di luar anggota FWP, ikut menerima pembagian daging kurban tersebut.

Bagi sebagian orang, empat ekor lembu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kalangan wartawan yang telah puluhan tahun mengikuti dinamika hubungan antara pemerintah daerah dan pers di Sumatera Utara, langkah itu memiliki makna simbolik yang jauh lebih dalam.

Dalam ingatan banyak wartawan senior, mungkin baru kali ini dalam sekitar tiga dekade terakhir — seorang gubernur menunjukkan perhatian sedemikian langsung 4 ekor lembu kepada insan media melalui momentum sosial-keagamaan seperti Iduladha.

Yang menarik, perhatian Bobby Nasution kepada wartawan tidak berhenti pada momentum kurban. Sebelumnya, ia juga menggagas bantuan uang muka (DP) bagi wartawan yang ingin memiliki rumah bersubsidi. Bahkan program itu kemudian menggugah empati kalangan pengembang perumahan untuk ikut berpartisipasi menggratiskan berbagai biaya administrasi dan akad kredit bagi wartawan penerima manfaat.

(*Dimensi Kemanusiaan)*

Di sinilah letak pentingnya membaca tindakan Bobby Nasution bukan sekadar sebagai bantuan sosial biasa, melainkan sebagai bagian dari cara kepemimpinan yang memahami bahwa hubungan antara pemerintah dan pers tidak cukup dibangun lewat konferensi pers, jamuan seremonial, atau kedekatan formal semata.

Ada dimensi kemanusiaan yang sering kali terlupakan: wartawan juga manusia biasa yang memiliki kebutuhan hidup, keluarga, dan tantangan ekonomi.

Dalam konteks itu, empat lembu kurban tersebut sesungguhnya adalah simbol. Simbol penghargaan terhadap profesi wartawan sebagai bagian penting dari ekosistem demokrasi dan pembangunan daerah.

Bobby Nasution tampaknya memahami bahwa pers bukan hanya mitra penyampai informasi pemerintah, melainkan juga bagian dari denyut sosial masyarakat yang perlu dirangkul dengan pendekatan manusiawi.

Tentu, hubungan baik pemerintah dengan pers tidak boleh dimaknai sebagai upaya mengurangi independensi media.

Justru hubungan yang sehat dan saling menghormati dapat menciptakan komunikasi publik yang lebih dewasa. Pemerintah tetap terbuka terhadap kritik, sementara pers tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional.

Namun di tengah hubungan profesional itu, tidak ada yang salah ketika hadir kepedulian sosial dan penghargaan kemanusiaan.

Dalam perspektif komunikasi publik modern, langkah Bobby Nasution ini juga memperlihatkan pemahaman tentang pentingnya membangun modal sosial.

Kepercayaan publik kepada pemerintah tidak lahir hanya dari proyek pembangunan fisik, tetapi juga dari cara seorang pemimpin memperlakukan orang-orang di sekitarnya, termasuk wartawan yang setiap hari menjadi penghubung informasi kepada masyarakat.

(*Peran FWP)*

Peran Forum Wartawan Pemprov Sumut di bawah kepemimpinan Syaifullah Defaza juga layak dicatat. Forum ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi wartawan, tetapi juga berhasil menjaga hubungan komunikasi yang sehat dan produktif dengan pemerintah daerah.

Penyaluran hewan kurban kepada ratusan wartawan menunjukkan bahwa hubungan tersebut dibangun dalam semangat kebersamaan dan saling menghargai.

Pada akhirnya, publik akan selalu lebih mudah mengingat tindakan dibandingkan pidato.

Empat lembu kurban mungkin tidak akan mengubah dunia dalam semalam. Namun di balik empat lembu itu, ada pesan penting tentang kepemimpinan: bahwa perhatian kecil yang dilakukan dengan tulus sering kali memiliki gema sosial yang jauh lebih besar dibandingkan seribu kata-kata.

Dan mungkin di situlah letak kekuatan Bobby Nasution hari ini — memilih bekerja dan bertindak lebih dulu, sebelum berbicara panjang lebar tentang kepedulian.(zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)***

Baca Juga :
Salat Iduladha di Masjid Agung, Bupati Sergai Tekankan Pentingnya Keikhlasan dan Kepedulian Sosial