Doktor Baharuddin Siagian Perkuat Kepemimpinan Berbasis Ilmu
MEDAN.Mitanews.co.id ||
Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang ujian terbuka Program Doktor di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Selasa (28/4/26).
Ini sebuah capaian akademik yang dinilai memperkuat legitimasi kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan di daerah.
Dalam sidang terbuka yang dipimpin langsung oleh Rektor UIN Sumatera Utara bersama sejumlah penguji, Baharuddin berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Komunikasi Politik Identitas Berbasis Agama dan Budaya di Media Sosial dalam Pemilihan Bupati di Kabupaten Batu Bara Tahun 2024. Ia dinyatakan lulus dengan nilai A+ setelah mampu menjawab berbagai pertanyaan kritis dari tim penguji.
Suasana sidang berlangsung khidmat namun penuh semangat. Ratusan hadirin yang mengikuti langsung ujian terbuka itu memberikan tepuk tangan panjang sesaat setelah hasil akhir diumumkan. Momen tersebut menjadi penanda bahwa keberhasilan itu tidak hanya dipandang sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Batu Bara.
Pengamat menilai, gelar doktor bagi seorang kepala daerah memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar prestasi akademik. Di tengah tuntutan tata kelola pemerintahan yang semakin kompleks, pemimpin daerah dituntut tidak hanya piawai secara administratif, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial secara ilmiah dan menyusun kebijakan berbasis riset.
“Gelar doktor itu bukan hanya simbol intelektual, tetapi juga amanah moral. Publik akan menaruh harapan lebih besar agar kepemimpinan dijalankan dengan pendekatan yang rasional, terukur, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” ujar seorang akademisi pemerintahan di Medan.
Tema disertasi yang diangkat Baharuddin juga dinilai sangat relevan dengan dinamika demokrasi saat ini. Politik identitas berbasis agama dan budaya menjadi isu sensitif, terutama dalam era media sosial yang mempercepat penyebaran opini dan polarisasi publik.
Kabupaten Batu Bara sebagai wilayah dengan keragaman sosial dan dinamika politik lokal yang kuat dinilai membutuhkan pendekatan komunikasi politik yang lebih sehat agar demokrasi tidak terjebak pada eksploitasi sentimen primordial.
Melalui penelitiannya, Baharuddin dinilai menunjukkan kesadaran bahwa demokrasi lokal tidak hanya ditentukan oleh program pembangunan, tetapi juga oleh bagaimana persepsi politik dibangun di tengah masyarakat.
Jika hasil kajian itu diterjemahkan ke dalam praktik pemerintahan, Batu Bara dinilai berpeluang memiliki tata kelola politik yang lebih inklusif, komunikasi pemerintahan yang lebih terbuka, serta pelayanan publik yang lebih adil tanpa diskriminasi sosial maupun politik.
“Politik identitas tidak selalu buruk, tetapi menjadi berbahaya ketika dipakai untuk memecah belah masyarakat. Pemimpin yang memahami itu akan lebih mampu menjaga stabilitas sosial,” kata pengamat tersebut.
Masyarakat kini menaruh harapan agar capaian akademik itu tidak berhenti pada seremoni gelar, tetapi benar-benar hadir dalam bentuk kebijakan nyata. Mulai dari pelayanan publik yang lebih responsif, pembangunan yang merata, hingga komunikasi pemerintahan yang lebih menyejukkan.
Dengan gelar doktor yang kini melekat pada namanya, Baharuddin Siagian dinilai memikul tanggung jawab yang lebih besar. Sebab, kepemimpinan publik pada akhirnya tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi dari kemampuan menghadirkan perubahan nyata melalui ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.***
Baca Juga :
Perayaan May Day SPSI Riau Tahun ini Diadakan di Lokasi MTQ Kota Pekanbaru Dan Dihadiri Hampir 1500 Buruh
