oleh

Peserta Plasma II Enam Desa Sepakat Untuk Pisah Dengan PT MAI

Padanglawas, MitaNews,-

Karena merasa terus dirugikan sejak 2014, seluruh anggota plasma II enam desa yang berjumlah 686 kaplingan dengan luas lahan 1.076 sepakat untuk pisah dengan bapak angkatnya PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) Desa Sungai Korang, Kec. Hutaraja Tinggi (Huragi). Kab. Padanglawas (Palas).

Kesepakatan itu diperoleh dalam pertemuan antara anggota plasma II enam Desa yang memberikan kuasa kepada Fron Komunitas Indonesia Satu (FKI 1) yang dipimpin Darwin Hasibuan dengan pihak PT MAI di Ruang Pertemuan Kantor PT MAI, Sungai Korang yang dipasilitasi oleh Dinas Pertanian Padanglawas, Selasa (18/09).

Hadir dalam pertemuan itu, Kadis Pertanian Ir H Abdullah Nasution dengan stafnya, Pihak PT MAI, anggota plasma dan pimpinan FKI 1, aparat Polsek Sosa dan angota Koramil 09 Sosa.

Dalam pertemuan yang kedua setelah difasilitasi Distan Palas, dikatakan,pertemuan dan pembahasan telah sering dilaksanakan namun tidak membuahkan kesimpulan, sementara anggota plasma terus merasa dirugikan dengan rata rata penghasilan Rp 100 ribu perbulan, padahal plasma lain yang belakangan ditanami sudah berpenghasilan rata rata Rp 3 juta.

Dalam paparannya ,Ketua FKI 1 Darwin Hasibuan mengatakan tahun 1999 warga enam desa, Desa Sungai Korang, Desa Hutaraja Tinggi, Pasar Panyabungan, Panyabungan, Mananti dan Aliaga memberikan lahan seluas 10.000 hektar pola anak bapak angkat (ABA) dengan sistim 70:30. Dimana penanaman dibiayai PT MAI dan warga mengembalikan biaya setelah berproduksi.

Namun yang ditanami pihak PT MAI hanya 5014 hektar sehingga warga memperoleh 1076 hektar. Sementara dalam proses penanaman dan perawatan ada sejumlah bagian warga plasma yang berhasil dibeli oknum pihak PT MAI sehingga dari 959 anggota plasma yang tersisa hanya 686 orang.

Selama masa produksi hingga kini warga plasma tidak pernah memperoleh hasil pemerataan yang memuaskan hanya di kisaran Rp 100 perbulan dan bahkan pernah tidak memperoleh bagian hasil, malah warga plasma mempunyai hutang perawatan kepada pihak PT MAI.

Untuk itu, Darwin bersama warga Plasma meminta pihak PT MAI transpran tentang anggaran pengeluaran dan pemasukan serta hasil terhadap lahan yang menjadi bagian warga seluas 1076 hektar, karena berdasarkan temuan warga ada beberapa hal yang tidak sesuai sehingga menimbulkan kecurigaan.

Namun pihak PT MAI tidak bisa memberikan permintaan warga karana perusahaan tetap berperinsip dengan perjanjian pola 70:30.Akibatnya, musyawarah itu menemui buntu dan saat itulah munculnya langkah ide untuk pisah antara anak angkat dengan bapak angkat.

Kemudian pihak PT MAI bersedia untuk pisah dengan catatan warga plasma harus melunasi seluruh sisa hutang anggota plasma yakni biaya penanaman dan nilai investasi. Kemudian pihak perusahaan juga berjanji akan memberikan surat kepemilikan hak lahan bila sudah ada pembayaran hutang.

Disaksikan Kepala Dinas Pertanian dan stapnya kesepakatan untuk pisah antara pihak PT MAI sebagai Bapak Angkat dan Warga Plasma II enam Desa sebagai anak angkat yang bersedia membayar syarat yang diajukan pihak perusahaan.(Sun)

Komentar

News Feed