oleh

Sidang Terdakwa JPS Hadirkan 2 Saksi Ahli

Pelalawan – MitaNews.co.id | Penasehat hukum terdakwa JPS, Hendri Siregar SH menghadirkan saksi ahli Pidana, dan fisiologis Forensik terkait dugaan kepemilikan narkoba Sabu seberat 7,6 gram atau 19 paket yang didakwakan kepada JPS.

Dalam persidangan ahli ini di hadiri oleh sebagai ketua Hakim Arif Erlangga SH, Hakim Anggota Nora SH, Hendrik Nenggolan, dan Jaksa Penuntun Umum Rahmat Hidayat SH.

Sidang menghadirkan saksi ini dilaksanakan di Pangadilan Negeri Ujung Tanjung Kabupaten Rokan Hilir Riau, Jumat 3-September-2021.

Saksi ahli yang dihadirkan oleh Kuasa Hukum dari JPS,, yaitu Hendri Siregar SH, dengan dua Ahli Yanwar Arief Sebagai Ahli fisiologis Forensik, DR. Mukhlis R. SH, MH Sebagai Ahli Pidana.

Sidang ini dilaksanakan secara online, baik Jaksa Penuntun Umum, Saksi Ahli Yanwar Arief dan terdakwa JPS, Secara online. Sedang Hakim, Pengacara dan saksi Ahli DR.Mukhlis R.SH.MH, mengikuti secara langsung dipersidangan PN Ujung Tanjung Kabupaten Rokan Hilir.

Ketika Majelis Hakim Arif Erlangga SH, mempertanyakan ke Ahlian dari Yanwar Arief, beliau sebagai Dosen di Universitas Riau mulai Tahun 2002 dan Sebagai PNS tahun 2008, dan mendapat sertifikat BNSP tahun 2019 dan 2020.

Menurut keterangan Ahli Yanwar menyampaikan secara fisiologis melihat keterangan terdakwa dan secara Ansorpasi pemeriksaan secara fisilogis bahwa terdakwa secara gestur, prilaku beliau menyampaikan tidak ada tanda-tanda kebohongan yang disampaikan oleh terdakwa.

Propremen klarifikasi akun masih adanya alat- alat informasi yang kurang lengkap untuk mendakwa tersangka. Jadi untuk menetapkan tersangka itu perlu dilakukan kepada para saksi-saksi yang lebih akurat lagi, dan perlu dikroscek. Supaya Jaksa Penuntut umum dan para penyilidik menetapkan tersangka itu harus barang bukti yang lebih lengkap lagi.

Ahli Yanwar Arief memeriksa tersangka langsung kelapas Bagan Siapi-api tanggal 30-juli-2021, pemeriksaan yang dilakukan secara fisiologis ini berlangsung dari pukul 11.30- 16.30 Wib, menurut keterangan ahli fisiologis bahwa terdakwa JPS tidak mengakui bahwa barang haram tersebut sabu-sabu yang ada didaalam dopet terdakwa bukan punya dia, bisa jadi ini dugaan jebakan yang dilakukan terhadap terdakwa. Melihat dari Gestur dan perilaku terdakwa JPS menurut Ahli Yanwar memang benar secara fisiologis terdkawa tidak ada melakukan kebohongan yang dia sampaikan kepada saya.

Terdakwa pun mengakui bahwa beliau pemakai narkoba Sabu. Kalau dilihat secara pribadi beliau ini orang berada dan tidak mungkin sebagai bandar narkoba, kalau yang menjadi bandar narkoba kebanyakan orang yang tidak mampu. Terdakwa JPS ini pun juga pernah dilakukan rehabilitasi terhadap beliau karena terdakwa sebagai pemakai narkoba.

Saksi Ahli kedua DR.Mukhlis R,SH, MH, juga ketika diminta keterangan didepan Majelis Hakim juga menerangkan, bahwa saksi- saksi yang diajukan oleh JPU dan Penyidik perlu dikroscek kembali sebab ketika Kuasa Hukum terdakwa JPS, Hendri Siregar SH, menanyakan kepada Ahli Pidana DR.Mukhlis R.SH.MH, ketika dilakukan pemeriksaan atau penangkapan 8-4-2021, di Wisma Teratai Mas, sekitar jam 1.45 WIB subuh, berat paket Sabu 7.6gram atau 19 paket.

Terdakwa dan perempuan kencan berada satu kamar dengan terdakwa, namun yang menjadi pertanyaan kami kepada Ahli, apakah hanya terdakwa aja ditahan atau diperiksa sedangkan perempuan yang bersama dengan terdakwa dilepaskan dan tidak ditahan atau diperiksa oleh penyidik Polres Rokan Hilir.

Ahli Mukhlis sebagai Ahli Pidana menjawab seharusnya perempuan tersebut ditahan dan diperiksa untuk diminta keterangan siperempuan tersebut. Bahkan kedua alat komunikasi hp keduanya pun juga perlu ditahan, supaya penyidik tahu kemana tersangka dan perempuan tersebut berhubungan melalui via telepon atau HP.

Ahli juga mengatakan melihat saksi- saksi yang dihadirkan oleh JPU dan Penyidik Kepolisian secara kwantitas bisalah, tapi secara kualitas saksi-saksi tersebut tidak memenuhi syarat.

Saksi ahli Pidana. DR. Mukhlis R.SH.MH menegaskan kepada Majelis Hakim dan JPU bahwa saksi-saksi tersebut harus dikroscek kembali.

Ditambahkan untuk menjadi saksi itu harus memenuhi syarat.

Saksi harus melihat, mendengar dan ia alami sendiri kalau kita melihat Pasal 1angka 26 KUHAP.

Keterangan saksi hanya akan menjadi alat bukti apabila didepan persidangan Pasal 185 ayat1 KUHAP, dan keterangan saksi tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah dalam Pasal 185 ayat2.

Prinsip itu disebut unus testis nulis testis yang artinya Satu saksi bukanlah saksi, sehingga keterangan saksi harus didukung oleh alat bukti yang lain misalnya: keterangan ahli, petunjuk atau keterangan terdakwa.itulah yang mulia saya sampaikan.

Setelah disampaikan oleh kedua ahli tersebut dalam persidangan, maka sidang akan dilanjutkan Senin 6-September-2021, sidang tuntutan JPU.
(Davidson)

Baca juga : Ombudsman RI Perwakilan Sumut Buka Kelas Pelayanan Publik

Komentar

News Feed