oleh

Tiga Jalur Kekuasaan Asal Samosir Disorot, Oloan Simbolon: Publik Menunggu Hasil Nyata

-Daerah-280 views

Tiga Jalur Kekuasaan Asal Samosir Disorot, Oloan Simbolon: Publik Menunggu Hasil Nyata

SAMOSIR.Mitanews.co.id ||


Hampir dua tahun sejak sejumlah figur asal Kabupaten Samosir berada di posisi strategis kekuasaan, masyarakat mulai menaruh perhatian pada sejauh mana kekuatan politik tersebut berdampak nyata bagi daerah.

Tiga tokoh yang kini berada pada tiga tingkat pemerintahan berbeda adalah Vandiko Timotius Gultom di tingkat kabupaten, Rapidin Simbolon di tingkat nasional, serta Sorta Siahaan di tingkat provinsi.

Secara politik, konfigurasi ini dinilai sebagai posisi yang sangat strategis bagi sebuah daerah. Jarang sebuah kabupaten memiliki representasi kuat secara bersamaan di tiga level kekuasaan: daerah, provinsi, dan pusat.

Namun mantan anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, Oloan Simbolon, menilai posisi tersebut baru akan memiliki arti apabila mampu menghasilkan perubahan konkret bagi masyarakat.

“Secara teori politik, ini adalah kekuatan yang sangat ideal bagi daerah. Ada kepala daerah yang memimpin pemerintahan, ada wakil di DPR RI yang berada dalam proses kebijakan nasional, dan ada representasi di tingkat provinsi. Tetapi politik tidak cukup diukur dari posisi jabatan. Politik diukur dari hasil yang dirasakan masyarakat,” ujar Oloan Simbolon di Pangururan, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, Kabupaten Samosir memiliki peluang besar untuk berkembang karena berada di kawasan strategis Danau Toba yang masuk dalam agenda prioritas nasional pengembangan pariwisata.

Kondisi tersebut seharusnya membuka akses yang luas untuk memperjuangkan berbagai program pembangunan, mulai dari infrastruktur, penguatan ekonomi lokal, hingga pengembangan sektor pariwisata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Namun hingga saat ini, menurut Oloan, publik masih melihat pergerakan politik yang berjalan sendiri-sendiri di setiap level kekuasaan.

“Selama hampir dua tahun ini kita melihat ada aktivitas di masing-masing posisi. Ada komunikasi ke pusat, ada kegiatan serap aspirasi, ada peran dalam kebijakan provinsi. Semua terlihat bekerja. Tetapi yang menjadi pertanyaan publik adalah: apakah semua itu sudah benar-benar terhubung dalam satu arah pembangunan?” katanya.

Ia menilai koordinasi antarlevel kekuasaan menjadi kunci utama agar kekuatan politik yang ada tidak berjalan terpisah.

Menurutnya, ketika kepala daerah melakukan komunikasi dan lobi ke pemerintah pusat, maka perwakilan daerah di DPR RI seharusnya dapat memperkuat dari dalam proses kebijakan nasional. Sementara di tingkat provinsi, akses terhadap kebijakan dan anggaran daerah dapat diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan di kabupaten.

“Ini bukan soal siapa yang paling menonjol atau siapa yang paling sering tampil. Yang dinilai masyarakat adalah apakah kekuatan yang ada benar-benar bersatu untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat pada akhirnya tidak menilai dari aktivitas politik semata, tetapi dari perubahan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari kondisi jalan yang lebih baik, peluang usaha yang meningkat, stabilitas ekonomi masyarakat desa, hingga sejauh mana sektor pariwisata benar-benar menggerakkan ekonomi warga lokal.

“Rakyat tidak hidup dari narasi politik. Mereka hidup dari hasil. Jika pembangunan terasa, jika ekonomi bergerak, jika kesempatan kerja terbuka, maka masyarakat akan menilai bahwa kekuasaan itu benar-benar bekerja,” kata Oloan.

Sebaliknya, apabila yang terlihat lebih banyak seremoni dan kegiatan simbolik tanpa dampak yang jelas, menurutnya publik akan membentuk penilaiannya sendiri.

Karena itu, ia menilai sudah waktunya seluruh pemegang mandat politik asal Samosir menunjukkan kedewasaan politik dengan membangun sinergi yang nyata dan terukur.

“Samosir tidak membutuhkan tiga kekuatan yang berjalan sendiri-sendiri. Yang dibutuhkan adalah satu arah gerak yang jelas dan terintegrasi untuk mempercepat pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila kekuatan politik di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional dapat disatukan dalam agenda pembangunan yang terarah, maka dampaknya dapat menjadi pendorong besar bagi kemajuan daerah.

Namun sebaliknya, jika momentum tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kesempatan strategis itu bisa saja berlalu tanpa menghasilkan perubahan signifikan bagi masyarakat.

“Pada akhirnya sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering tampil di panggung politik. Sejarah mencatat siapa yang benar-benar mampu membawa perubahan bagi rakyatnya,” kata Oloan.***

Baca Juga :
Dorong Konektivitas Danau Toba, Bupati Samosir Usulkan Jalur Penyeberangan Samosir–Tongging kepada Menteri Perhubungan