oleh

Ekosistem Batang Toru Tak Cukup Dijaga, Harus Dipantau

Ekosistem Batang Toru Tak Cukup Dijaga, Harus Dipantau

TAPSEL.Mitanews.co.id ||


Menjaga hutan Batang Toru atau dikenal dengan sebutan Harangan Tapanuli tidak akan cukup hanya dengan mempertahankan kawasan hutan. Keberadaan satwa, tumbuhan dan habitatnya juga harus dipantau secara rutin.

Pemantauan jadi salah satu bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati di Ekosistem Batang Toru yang terletak di Provinsi Sumatera Utara dan terbentang di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara itu.

Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT Agincourt Resources (PTAR), Syaiful Anwar, mengatakan pemantauan dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi satwa, tumbuhan dan habitat dari waktu ke waktu.

“Keanekaragaman hayati harus dipantau secara berkelanjutan. Hasil pemantauan itu, titik awal kita mengetahui bagaimana kondisi ekosistem dan menentukan langkah konservasi yang diperlukan,” kata Syaiful di Padangsidimpuan, belum lama ini.

Menurutnya, perlindungan terhadap keanekaragaman hayati merupakan aspek penting dalam pertambangan berkelanjutan Komitmen PTAR jelas, meminimalkan dampak kegiatan tambang terhadap biodiversitas dan ikut mendukung perlindungan keanekaragaman hayati.

Pengelolaan biodiversitas dilakukan dengan prinsip mitigasi. Pertimbangannya sudah dimulai sejak perencanaan kegiatan tambang, termasuk studi kelayakan, penilaian risiko, rencana umur tambang, rencana penutupan tambang hingga penyusunan rencana dan anggaran tahunan.

Studi dampak lingkungan juga dilakukan untuk setiap proyek baru yang hendak dibuka. Sementara kegiatan yang sudah berjalan dievaluasi secara berkala.

“Setiap kegiatan harus direncanakan dengan mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati,” tegas Syaiful.

Upaya yang dilakukan dalam mengurangi dampak perencanaan proyek meliputi pemilihan lokasi, desain dan jadwal kegiatan. Saat konstruksi dan operasi, pengawasan dilakukan sesuai prosedur, terutama pada pembukaan vegetasi dan pencegahan pencemaran saluran air.

Salah satu upaya sederhana namun berdampak besar dalam menjaga habitat yang dilakukan PTAR, adalah dengan membangun arboreal bridge atau jembatan tali.

Bukan untuk manusia, jembatan ini dibuat untuk membantu satwa yang banyak beraktivitas di atas pohon, seperti monyet, lutung dan tupai, berpindah dari satu kawasan hutan ke kawasan lainnya.

Tambang Emas Martabe mulai membangun arboreal bridge sejak 2023. Saat ini terdapat delapan titik jembatan di kawasan operasional Tambang Emas Martabe.

Jembatan tersebut dibuat untuk membantu menjaga konektivitas habitat dan mengurangi risiko satwa terisolasi akibat terputusnya kawasan hutan.

Selain itu, upaya pengawasan juga dilakukan saat perusahaan membuka titik pertambangan baru yang membutuhkan peledakan.

Syaiful memastikan, sebelum peledakan dilakukan, petugas melakukan observasi hingga radius 500 meter dari bibir tambang.

Observasi dilakukan untuk melihat kondisi sekitar, termasuk memastikan keberadaan satwa, sekaligus mengurangi kemungkinan dampak suara ledakan terhadap habitat.

"Karena kita tidak ingin dan menghindari betul kegiatan itu berdampak terhadap keberadaan satwa yang ada di sekitar," tegas Syaiful.

Yang tidak kalah penting, PTAR juga melakukan rehabilitasi pada lahan yang sudah selesai digunakan untuk kegiatan tambang. Penghutanan atau penghijauan kembali dilakukan melalui rehabilitasi progresif dan restorasi habitat.

Namun, lanjut Syaiful, PTAR menyadari bahwa perlindungan biodiversitas tidak mungkin dan atau tidak akan bisa dilakukan perusahaan sendirian.

Karena itu, PTAR menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, seperti Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), perguruan tinggi, pemerintah, LSM (NGO) serta masyarakat.

“PTAR tidak dapat menjaga dan mewariskan kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati sendirian. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi suatu keharusan,” ujar Syaiful.

Kerja sama tersebut, diperlukan agar perlindungan ekosistem tidak hanya dilakukan di sekitar wilayah operasional perusahaan, tetapi dapat memberikan manfaat lebih luas jika memungkinkan.

Bagi PTAR, kegiatan pertambangan juga memiliki tanggung jawab besar terhadap generasi penerus berikutnya.

“Setiap langkah yang diambil dalam kegiatan pertambangan merupakan hutang yang harus dibayar kepada generasi penerus kita. Yakni, mewariskan lingkungan yang baik dan terjaga,” ujar Syaiful.

Perusahaan, lanjutnya, juga memberikan edukasi kepada seluruh karyawan mengenai betapa pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan menuntut peran masing-masing dalam mendukung upaya konservasi.

Untuk semakin mengukuhkan serta memperkuat pengelolaan biodiversitas, PTAR pun kemudian membentuk Biodiversity Advisory Panel (BAP) pada tahun 2020.

Panel itu terdiri dari sejumlah ilmuwan yang memiliki keahlian di bidang habitat, fauna, khususnya orangutan, dan konservasi ekosistem. Mereka antara lain Dr. Rondang Siregar, Dr. Sri Suci Utami Atmoko, Dr. Puji Rianti dan Dr. Onrizal.

Panel tersebut yang kemudian akan memberikan masukan ilmiah dengan disandingkan data, dalam pengelolaan biodiversitas di kawasan Batang Toru.

Ilmuwan biodiversitas dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta sekaligus anggota BAP PTAR, Dr. Suci Utami Atmoko, mengatakan penelitian dan pemantauan lapangan diperlukan untuk mengetahui kondisi biodiversitas secara lebih jelas.

Kondisi keanekaragaman hayati, kata dia, tidak bisa dinilai hanya dari pengamatan sesaat. Perubahan di lapangan perlu dicatat melalui penelitian dan pemantauan secara berkala.

“Konservasi harus berbasis data. Kita perlu mengetahui kondisi biodiversitas secara berkala sehingga setiap perubahan yang terjadi bisa segera terdeteksi dan ditindaklanjuti,” kata Suci.

Ia mengungkapkan, data lapangan menjadi dasar untuk menentukan langkah konservasi. Hal itu penting karena ekosistem Batang Toru saling terhubung dan tidak terpisahkan.

Sebab, gangguan di satu bagian habitat dapat memengaruhi bagian lainnya, terutama bagi satwa yang membutuhkan kawasan hutan luas untuk bergerak dan mencari makanan tanpa ada hambatan.

Suci menyebut sejumlah satwa dan tumbuhan yang menjadi bagian dari kekayaan biodiversitas Batang Toru, di antaranya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), kukang (Nycticebus coucang), burung rangkong (Buceros sp.), burung kuau (Argusianus argus) dan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum).

Sehingga, keberadaan berbagai spesies tersebut membuat pemantauan habitat menjadi persoalan mendasar dan sangat penting untuk dilaksanakan.

Konservasi bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan. Pemantauan, kata Suci, harus dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui perubahan sejak awal.

Bagi Syaiful dan Suci, penelitian dan data lapangan menjadi dasar dalam menjaga biodiversitas Batang Toru.

Sebab, yang dijaga bukan hanya satu jenis satwa, tetapi seluruh ekosistem. Mulai dari kawasan hutan sebagai habitat, sumber makanan hingga jalur yang digunakan satwa untuk bergerak dan berkembang biak.

Karena itu, kompak Syaiful dan Suci, menjaga Batang Toru butuh pemantauan yang rutin, penelitian yang berkelanjutan dan kerja sama berbagai pihak. Hasilnya didapatkan langsung di lapangan, dan tidak berhenti sebagai rencana.

Tulisan ini dibuat untuk keikutsertaan dalam Kompetisi Penulisan Smartabe Connect Biodiversitas 2026 dengan tema: “Biodiversitas dan Upaya Konservasi di Ekosistem Batang Toru.***

Baca Juga :
Hadiri Pelantikan KNPI Tapsel, Syahrul Pasaribu Titip Pesan Penting

News Feed