Dari Musa Idishah untuk ayahanda Haji Anif rahimahullah: Amal Jariyah yang Mengalir
MEDAN.Mitanews.co.id ||
Alangkah bahagianya almarhum Haji Anif rahimahullāh.
Di saat jasadnya telah kembali ke pangkuan Ilahi, amalnya seakan belum berhenti—justru terus mengalir melalui tangan putranya, Musa Idishah atau yang akrab disapa Dodi Anif.
Di Masjid Agung Medan, selama Ramadan 1447 H, satu pemandangan berlangsung berulang—dan menjadi saksi hidup tentang ajaran Islam yang agung: bahwa amal tidak selalu terputus oleh kewafatan.
Selama 28 hari berturut-turut, menjelang waktu berbuka puasa—di saat yang diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa—para imam masjid secara bergantian berdiri di hadapan ratusan bahkan seribuan jamaah.
Dalam suasana khusyuk, mereka memimpin doa, menyebut satu nama yang terus dilangitkan:
Haji Anif.
Nama itu disebut berulang, siang demi siang, petang demi petang. Didoakan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di surga terbaik.
Doa itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia hadir dari sebuah amal nyata.
Sebagai donatur utama kegiatan Ramadan, Musa Idishah dengan penuh keikhlasan mendukung penyelenggaraan berbuka puasa bersama selama satu bulan penuh serta iktikaf pada empat malam ganjil di Masjid Agung Medan—kegiatan yang dikoordinasikan oleh Yuslin Siregar selaku Sekretaris Badan Kenaziran.
Dari kontribusi itu, tercatat lebih dari 16.000 jamaah menikmati hidangan berbuka puasa sepanjang Ramadan.
Sementara pada rangkaian iktikaf, jumlah jamaah mencapai 10.088 orang.
Setiap suapan yang mengenyangkan, setiap tegukan yang menghilangkan dahaga, setiap doa yang terangkat di langit malam—semuanya berpotensi menjadi aliran pahala yang tak terputus.
Dalam perspektif ajaran Islam, apa yang terjadi ini bukan sekadar aktivitas sosial. Ia adalah manifestasi nyata dari sabda Nabi Muhammad SAW bahwa ketika seseorang wafat, amalnya terputus kecuali tiga hal—sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Pada diri Musa Idishah, ketiganya seakan bertemu.
Ia bukan hanya menjadi anak yang mendoakan, tetapi juga melanjutkan jalan kebaikan ayahnya melalui sedekah yang terus mengalir.
Apa yang dahulu ditanam oleh Haji Anif—nilai kepedulian, kecintaan pada masjid, dan keberpihakan kepada umat—kini berbuah dalam bentuk amal yang lebih luas.
Masjid Agung Medan pun menjadi saksi: bahwa kepedulian dapat diwariskan, dan amal dapat dilanjutkan melampaui batas kehidupan.
“Ini bukan sekadar donasi, tapi bentuk bakti seorang anak kepada orang tuanya,” ujar salah seorang jamaah yang rutin mengikuti kegiatan tersebut.
Bakti itu tidak berhenti pada niat, tetapi menjelma menjadi gerakan nyata. Dalam diam, tanpa banyak sorotan, ia menghadirkan manfaat bagi ribuan orang—dan pada saat yang sama, mengalirkan pahala bagi seorang ayah di alam sana.
Di tengah keramaian Ramadan, mungkin tak semua jamaah menyadari: bahwa di balik hidangan berbuka yang mereka nikmati, ada satu cinta yang sedang bekerja—cinta seorang anak kepada ayahnya.
Dan dari cinta itulah, lahir satu pelajaran penting:
Bahwa dalam Islam, kematian bukanlah akhir dari kebaikan.
Selama ada anak yang melanjutkan, amal itu akan tetap hidup—mengalir, diam-diam, menuju langit.***
Baca Juga :
Kepala BPS Sumut Optimistis UHC Dongkrak Indeks dan Nama Baik Bobby Nasution
