oleh

Dua Belas Hari Bersama H. Yuslin Siregar: Mencari Modal untuk Pulang”

-Daerah-80 views

Dua Belas Hari Bersama H. Yuslin Siregar: Mencari Modal untuk Pulang”

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

Mitanews.co.id ||
"Mencari Modal untuk Pulang". Kalimat itu diucapkannya ringan, hampir tanpa tekanan.*

Namun justru di situlah letak getarnya. “InsyaAllah ini modal kita untuk pulang.”

Pulang—yang ia maksud bukan ke rumah selepas berbuka, bukan pula ke kampung halaman selepas Ramadan. Pulang yang ia maksud adalah kembali kepada Allah SWT.

Selama dua belas hari berturut-turut Ramadan 1447 H, saya menyaksikan langsung bagaimana kalimat itu menemukan bentuknya dalam tindakan.

Di halaman dan ruang lantai dasar Masjid Agung Medan, di antara ribuan mangkuk bubur berbuka, deretan gelas air mineral, dan wajah-wajah jamaah yang menunggu azan magrib, ada satu sosok yang hampir tak pernah absen: Sekretaris Badan Kenaziran dan Wakaf Masjid Agung Medan, H. Yuslin Siregar.

Ia bukan berdiri di mimbar. Ia tidak duduk di kursi. Ia tidak memberi komando dengan suara keras. Tetapi kehadirannya terasa dalam setiap sudut persiapan berbuka.

Sejak hari pertama Ramadan, ia sudah berada di tengah-tengah petugas. Memeriksa ketersediaan makanan, memastikan distribusi takjil berjalan teratur, menanyakan kesiapan air minum, hingga memperhatikan jalur masuk jamaah agar tak berdesakan.

Ketika jumlah jamaah meningkat, bahkan memecahkan rekor lebih dari 1.100 orang pada hari ke-11, ia tetap pada ritme yang sama: turun langsung, membaur, memastikan tak ada yang terabaikan.

Di sela kesibukan itu, ia kerap berhenti sejenak. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mengamati. Seolah ia sedang menghitung bukan hanya jumlah piring, tetapi juga tanggung jawab.

*(Amanah)*

Bagi kenaziran, kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin Ramadan. Ini adalah amanah.
Dan amanah itu nilainya tidak kecil.

Jika dihitung untuk keseluruhan kegiatan berbuka puasa selama sebulan penuh ditambah penyediaan makan sahur bagi jamaah iktikaf pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir, anggaran yang dibutuhkan mendekati Rp 300 juta.

Angka yang besar. Sangat besar untuk ukuran kegiatan sosial berbasis donasi.

Namun yang menarik, sebelum Ramadan 1447 H benar-benar dimulai, komitmen dana itu sudah hampir sepenuhnya tergambar. Di sinilah ketokohan itu menemukan wujudnya.

H. Yuslin Siregar tidak sekadar mengajak. Ia memulai.

Sejak awal, ia menyatakan komitmennya secara terbuka, menyebut angka kontribusinya sendiri untuk kegiatan berbuka dan sahur iktikaf.

“Kalau perlu ditambah,” begitu ia sampaikan. Dari contoh itu, muncul respons.

Nama-nama besar kemudian menyatakan kesediaan: H. Musa Idishah (Dodi Anif), H. Indra Utama, H. Teuku Soelaiman, H. Tengku Dzulmi Eldin, H. Suhardi SE Aroma, H. Aldi Subartono, H. Muslim Siregar, H. Chandra Lubis, H. Azis Balatif—dan lainnya.

Ada yang langsung mentransfer, ada yang menyampaikan komitmen lebih dahulu, lalu menunaikannya sebelum Ramadan berjalan jauh.

Sebagian bahkan menambah donasi setelah menyaksikan langsung kesungguhan pelaksanaan.

Kepercayaan itu bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa dana yang dititipkan tersalurkan utuh, transparan, dan tepat sasaran.

Bahwa yang dikerjakan bukan sekadar membagikan makanan, melainkan melayani ibadah umat.

Dan itu terlihat.
Jamaah datang dengan tenang. Mereka berbuka dengan nyaman. Setelah itu, mereka bisa berdiri dalam saf salat Magrib, Tarawih, dan Witir tanpa kegelisahan. Tidak ada kekacauan distribusi. Tidak ada wajah kebingungan mencari makanan. Semua bergerak dalam sistem yang tertata.

*(Modal Pulang)*

Di balik keteraturan itu, ada kerja sunyi yang jarang disorot.
Selama dua belas hari, saya melihat pola yang sama. Ia hadir sebelum jamaah membludak. Ia tetap berdiri ketika sebagian orang mulai beranjak untuk berbuka.

Ia memastikan petugas menjalankan tugas dengan benar. Ia memeriksa sarana dan prasarana. Ia mengoordinasikan, bukan memerintah dari jauh.

Ketika ditanya bagaimana mungkin kenaziran berani menyatakan “siap” meski jamaah terus bertambah, jawabannya sederhana: donasi kegiatan ini sepenuhnya dari para donatur, bukan dari tabung infak rutin masjid.

Artinya, sejak awal, fondasinya sudah disiapkan dengan perhitungan dan keyakinan.

Keberanian itu bukan nekat. Ia berdiri di atas komitmen yang sudah dibangun jauh sebelum Ramadan tiba.

Di titik ini, saya melihat satu hal yang jarang: kepemimpinan yang dimulai dari teladan. Ia memberi contoh lebih dahulu, lalu mengajak.

Ia menggugah kepercayaan bukan dengan retorika, tetapi dengan tindakan. Ia menjaga amanah dengan kesungguhan, sehingga orang-orang besar pun merasa tenang menitipkan dana mereka.

Malam-malam terakhir Ramadan akan segera tiba. Kegiatan iktikaf dengan penyediaan makan sahur telah disiapkan.

Komitmen sudah ada. Sistem sudah berjalan.
Tetapi bagi H. Yuslin Siregar, semua itu bukan soal angka jamaah, bukan soal total dana, bukan soal rekor.

“InsyaAllah ini modal kita untuk pulang.”

Setelah dua belas hari menyaksikan langsung, saya memahami bahwa kalimat itu bukan slogan. Ia adalah cara pandang.

Bahwa setiap piring yang tersaji, setiap gelas air yang dibagikan, setiap jamaah yang terlayani dengan baik, adalah bagian dari investasi yang tak tercatat di laporan keuangan—melainkan di catatan amal.

Dan mungkin di situlah letak ketokohan yang sesungguhnya: bukan pada posisi jabatan, bukan pada besarnya dana yang terhimpun, tetapi pada kesadaran bahwa semua ini pada akhirnya adalah perjalanan menuju pulang.
Ke rumah yang abadi di akhirat. InsyaAllah di Surga-Nya Allah SWT.(Penulis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers)***

Baca Juga :
Langkah Tegas BGN Hentikan Operasional SPPG Sei Rampah Mendapat Apresiasi