oleh

Kyai Khambali : Pilih Pemimpin yang Berkarakter dan Beradab Bukan Pemimpin karena Uang

-Politik-394 views


Kyai Khambali : Pilih Pemimpin yang Berkarakter dan Beradab Bukan Pemimpin karena Uang

JATIM.Mitanews.co.id ||


“Bagaimana mungkin Kita mengaku tidak paham politik dan uang ? Kita paham menggunakan senjata kan? Uang adalah 'senjata', politik adalah 'mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menarik pelatuknya'” – ucap Kyai Khambali saat menghadiri acara Mujadalah Kyai Kampung di Malang Jatim yang menghadirkan para Capres.
 

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta anggota Legislatif akan digelar pada 14 Februari 2024. Para calon Presiden dan Wapres serta Calon Legislatif masyarakat sudah mengetahuinya melalui media sosialisasi. Saling tebar Pesona dan penciraan pun sudah berlangsung, padahal jadwal Kampanye baru tanggal 28 Nopember 2023 di Mulai.

Pemaparan visi, misi, program dan strategi untuk membangun sudah disosialisasikan kepada khalayak masyarakat masing-masing di daerah.

Kini masyarakat tinggal menghitung hari saja untuk pilihan pada figur pasangan calon (paslon) yang bertarung dalam pesta demokrasi 14 Februari 2024 mendatang.

Pemilih rasional sangat diharapkan dalam ajang Pilpres kali ini. Biasanya para pemilih rasional akan memperhatikan beberapa hal penting di antaranya: mengetahui rekam jejak Para Capres da Cawapres, mengenal karakter calon pemimpin, mengenal visi misi dan program kerja, mengetahui situasi dan kondisi anrara ketimpangan Kota dan Desa, mengenal persoalan Kota dan Desa, dan apa yang sungguh dibutuhkan dan terbaik untuk Pedesaan masing-masing.

"Di atas kertas, saya sangat yakin semua program visi-misi para paslon tentu sudah disusun dengan baik dan bertujuan akhir untuk mensejahterakan masyarakat atau menciptakan bonum commune (kebaikan bersama) bagi masyarakat itu sendiri. Tinggal sekarang bagaimana masyarakat bisa memilih dengan baik dan tepat," ujar Kyai Khambali Pengasuh Ponpes Wirausaha Ahlul Kirom, Sabtu (25/11/2023).

*Jadilah Pemilih Rasional*

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden merupakan suatu keputusan politik yang penting untuk kemajuan Bangsa 5 tahun mendatang. Oleh karena itu dalam memilih, para pemilih atau masyarakat das sollen (seharusnya) memilih berdasarkan nalar sehat. Memilih dengan nalar sehat artinya memilih dengan menggunakan prinsip-prinsip rasionalitas, logis, objektif, faktual, mandiri, bebas, jujur, taat hati nurani, adil, dan otonom dalam memilih.

Pemilih yang rasional tidak akan dipengaruhi dengan cara apapun, oleh kekuatan apapun, termasuk rayuan gombal uang atau money politic yang biasanya marak sekali menjelang Pilpres .

Pemilih rasional harusnya menempatkan dirinya sebagai SUBJEK yang menentukan dan bukannya objek yang ditentukan. Subjek yang menentukan artinya, ia tidak bisa dipengaruhi dengan kekuatan uang ataupun kekuatan hegemonik lainnya yang intervensif-intimidatif. Pemilih yang rasional adalah SUBJEK yang menjaga kesucian diri, menjaga keutuhan diri, menjaga kemurnian pilihannya dalam memilih. Ia menghargai dirinya sendiri, tidak terpengaruh oleh godaan uang dari Paslon atau tim sukses Paslon yang memberikan sejumlah uang Ketus Kyai Khambali selaku Ketua Umum Gema Santri Nusa.

Pemilih rasional akan memilih pemimpin karena pikiran dan hati nuraninya sendiri, bukan karena diberi uang. Kalau memilih karena uang, maka ia sudah memenuhi dirinya sendiri. Ia pun tidak menghargai dirinya sendiri, karena menempatkan dirinya sebagai objek dan bukannya SUBJEK. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai tuan dan raja melainkan hamba bahkan budak. Ini posisi di titik nadir yang memprihatinkan Ujar Kyai Khambali di sela2 Acara Mujadalah Kyai Kampung.

*Jaga Kualitas Demokrasi*

Pemilu itu juga momen yang baik untuk meningkatkan kualitas demokrasi kita. Kualitas demokrasi Indonesia akan semakin bagus dan baik jika masyarakat pemilih memposisikan dirinya sebagai SUBJEK dalam memilih. Ketika investor menempatkan dirinya sebagai subjek pemilih, maka ia akan memilih nilai-nilai yang baik. Nilai-nilai yang baik itu artinya ia menjaga marwah dirinya sebagai penguasa sesungguhnya. Penguasa sesungguhnya bukan para calon pemimpin Bangsa, namun masyarakat pemilih itu sendiri. Karena demokrasi adalah kekuasaan yang ada di tangan rakyat. Demokrasi itu kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam memilih, rakyat seharusnya menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa yang sejati atas dirinya sendiri, dan bukan dikuasai oleh para calon pemimpin yang membual janji kosong dalam ajang kampanye.

Kita perlu berpikir bahwa uang tidak menentukan demokrasi.

"Demokrasi yang sejati di negeri ini harus dibangun di atas dasar rakyat pemilih yang cerdas, yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, kebebasan dan tanggung jawab dalam memilih saat Pilpres," tegas Kyai Khambali yang juga Pengasuh Majlis Sholawat Ahlul Kirom.

"Jika kita ingin menjaga kualitas demokrasi kita, kita harus setia dan berani untuk memilih bukan karena uang. Memilih karena uang akan merusak kualitas demokrasi itu sendiri. Karena demokrasi itu bukanlah tentang uang, melainkan tentang bagaimana kita memilih sesuai dengan penuh kesadaran diri, kebebasan, rasionalitas, kejujuran, etika dan nilai-nilai umum universal demi kebaikan bersama seluruh anggota masyarakat.

"Jangan jadikan diri kita sebagai Objek dalam Pilpres ini tampak bahwa kita rakyat Indonesia semakin matang dalam berdemokrasi, menunjukkan kita bisa menjaga martabat diri kita yang sejati sebagai pemilih yang rasional, pemilih yang menjaga kesucian diri, pemilih yang menghormati nurani, pemilih yang menjaga kualitas demokrasi, dan pemilih yang memilih calon pemimpin yang berkarakter mulia . Salam Pemilu !

“Politik uang bukan pembentuk karakter, melainkan perusak karakter itu sendiri,” ujar Kyai Khambali yang juga Pengurus BPET MUI Pusat.(MN.01)***

Baca Juga :
Monitoring Pelayanan Kesehatan Balita dan PMT Kembali Digelar di 5 Kecamatan

News Feed