oleh

Pesta Tapai Batu Bara: Komitmen Bupati Baharuddin Siagian Merawat Warisan Budaya

-Daerah-99 views

Pesta Tapai Batu Bara: Komitmen Bupati Baharuddin Siagian Merawat Warisan Budaya

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

Mitanews.co.id ||
Ajakan Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian kepada masyarakat, termasuk warga perantauan, untuk memeriahkan Pesta Tapai patut dibaca lebih dari sekadar undangan menghadiri agenda tahunan.

Di balik pernyataan itu tersimpan pesan penting tentang bagaimana sebuah daerah memaknai warisan budayanya—apakah berhenti sebagai seremoni, atau sungguh dirawat sebagai identitas kolektif yang hidup.

Pesta Tapai 17 Januari - 17 Februari 2026 bukan tradisi yang lahir kemarin sore. Ia tumbuh dari sejarah panjang masyarakat Melayu pesisir Batu Bara sejak abad ke-18, berkelindan dengan praktik sosial, ekonomi, dan spiritual menjelang Ramadhan.

Di dalamnya ada nilai syukur, silaturahmi, solidaritas, serta kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. Ketika bupati mengajak perantau “pulang” merayakan Pesta Tapai, sesungguhnya yang dipanggil bukan hanya tubuh, tetapi juga ingatan dan rasa memiliki

Namun, di titik inilah ujian dimulai. Sebab, tidak sedikit tradisi lokal yang kehilangan makna ketika dikemas setengah hati—terjebak antara romantisme masa lalu dan tuntutan popularitas masa kini.

Pesta Tapai berisiko mengalami nasib serupa bila tidak dikelola dengan visi kebudayaan yang jernih. Namun dari komitmen Bupati ini mencatat, ajakan politik kultural itu sudah matang dan harus diikuti dengan konsistensi kebijakan, tata kelola yang rapi, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat sebagai pemilik tradisi.

Dari sisi ekonomi, Pesta Tapai telah terbukti memberi dampak langsung bagi UMKM dan pedagang rakyat. Pendapatan yang meningkat menjelang Ramadhan adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.

Namun, manfaat ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Kita yakin Pemerintah daerah telah memastikan agar geliat ekonomi itu tidak menggerus nilai adat, tidak mengubah tradisi menjadi sekadar pasar musiman yang kehilangan ruh.

Di sinilah peran pemerintah daerah dengan komitmen dan kebijakan bupati—melalui Disporabudpar—menjadi krusial. Pesta Tapai harus diposisikan sebagai ruang pendidikan budaya, terutama bagi generasi muda, sekaligus sebagai wahana integrasi sosial lintas wilayah dan lintas generasi.

Integrasi dengan tradisi Mogang dan Mandi Belimau, sebagaimana direncanakan, patut diapresiasi selama tetap berpijak pada substansi, bukan sekadar menambah daftar acara.

Tulisan ini menilai, langkah Bupati Batu Bara membuka ruang partisipasi perantau dan masyarakat Sumatera Utara adalah sinyal positif. Kita optimis kelanjutannya: perlindungan budaya, dokumentasi yang serius, promosi yang bermartabat, serta arah kebijakan yang menempatkan Pesta Tapai sebagai warisan budaya tak benda.

Pada akhirnya, Pesta Tapai adalah cermin. Ia akan memantulkan sejauh mana Batu Bara sungguh-sungguh menghormati masa lalunya, sekaligus menata masa depannya. Tradisi yang dirawat dengan kesadaran akan tumbuh. Dan di situlah tanggung jawab bersama—negara dan masyarakat.(Penulis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers)***

Baca Juga :
Jaringan Telekomunikasi Aceh Pulih, Layanan di Sumut–Aceh–Sumbar Kembali Normal