oleh

Rilis Dibuka, Kebenaran Dikunci: Ketika Pemerintah Bicara Setengah, Wartawan Dipaksa Menyalin Tanpa Jawaban

-Daerah-176 views

Rilis Dibuka, Kebenaran Dikunci: Ketika Pemerintah Bicara Setengah, Wartawan Dipaksa Menyalin Tanpa Jawaban

SAMOSIR.Mitanews.co.id ||


Pemerintah boleh merasa telah “menjalankan kewajiban” dengan merilis informasi. Namun ketika informasi itu tidak utuh, tidak dijelaskan, dan tidak dijawab saat dipertanyakan, maka yang lahir bukan transparansi—melainkan ilusi keterbukaan.

Pelantikan pejabat administrator dan pengawas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Samosir yang dipublikasikan melalui kanal resmi seharusnya menjadi contoh komunikasi publik yang sehat. Tapi yang tampak justru pola lama: rilis satu arah, minim detail, dan nihil klarifikasi.

Publik tidak tinggal diam. Warganet membaca, mencermati, lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar:

Status jabatan yang tidak jelas.
Istilah “pengawas” yang menggantung tanpa definisi.
Proses yang tidak dijelaskan secara terbuka.

Namun dari semua itu, yang paling mencolok adalah satu hal: tidak ada jawaban.

Pertanyaan diajukan berulang kali, tetapi tak berbalas. Ruang komentar berubah menjadi ruang tanya tanpa respon—ramai di bawah, sunyi di atas.

Jika ini disengaja, maka ini penghindaran.
Jika ini kelalaian, maka ini kegagalan serius.

Keduanya sama-sama mencederai akuntabilitas.

Namun persoalan tidak berhenti di sana.

Rilis yang sama juga disebarkan ke grup WhatsApp Kominfo yang berisi para wartawan. Dan di titik inilah dilema jurnalisme muncul ke permukaan.

Banyak media kemudian memuat berita dengan menyalin hampir seluruh isi rilis tersebut—bulat, utuh, tanpa verifikasi tambahan. Narasi pemerintah berpindah dari akun resmi ke halaman media, tanpa proses pengujian yang seharusnya menjadi ruh kerja jurnalistik.

Pertanyaannya menjadi tajam:

Di mana fungsi kontrol pers ketika rilis diterima tanpa diuji?
Bagaimana publik bisa mendapatkan kebenaran utuh jika media hanya menjadi corong distribusi?

Dalam praktik ideal, rilis pemerintah adalah bahan awal—bukan produk akhir. Ia harus diuji, dikonfirmasi, dan diperkaya dengan perspektif lain. Terlebih ketika sudah muncul pertanyaan publik yang belum terjawab.

Namun ketika rilis disalin apa adanya, sementara pertanyaan dibiarkan menggantung, maka yang terjadi adalah reproduksi informasi setengah matang secara massal.

Media kehilangan daya kritis.
Publik kehilangan pegangan.

Dan pemerintah—tanpa perlu menjelaskan lebih jauh—tetap terlihat seolah telah “transparan”.

Inilah lingkaran yang berbahaya:

Pemerintah merilis setengah informasi.
Wartawan menyalin tanpa menguji.
Publik membaca tanpa kepastian.

Akibatnya, yang beredar bukan kebenaran, melainkan versi yang belum selesai.

Situasi ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Bagi pemerintah, keterbukaan tidak berhenti pada rilis—tetapi pada kesiapan menjawab. Bagi wartawan, menerima rilis bukan berarti menghentikan kerja jurnalistik—justru di situlah pekerjaan dimulai.

Sebab ketika media berhenti bertanya,
dan pemerintah memilih diam,

maka yang tersisa hanyalah informasi yang tampak resmi—
tetapi kehilangan makna kejujuran.

Dan pada akhirnya, publik tidak hanya menilai isi berita. Mereka juga menilai siapa yang berani bertanya dan siapa yang memilih sekadar menyalin.***

Baca Juga :
Judi Bukan Sekadar Pelanggaran, Ini Ujian Nyata Kewibawaan Negara

News Feed