oleh

PTAR Bangkitkan Kakao Batang Toru hingga Lahir Martabe Chocolate

-Daerah-888 views

PTAR Bangkitkan Kakao Batang Toru hingga Lahir Martabe Chocolate

TAPSEL.Mitanews.co.id ||


PT Agincourt Resources (PTAR) terus mendorong kebangkitan komoditas kakao di Kecamatan Batang Toru dan Muara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, melalui Program Martabe Cocoa.

Program pemberdayaan masyarakat itu tidak hanya menghidupkan kembali budidaya kakao yang sempat meredup, tetapi juga membangun industri pengolahan hingga melahirkan produk cokelat bermerek Martabe Chocolate.

Sejak dikembangkan pada 2025, Martabe Cocoa dirancang sebagai program pemberdayaan berbasis pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan seluruh rantai produksi kakao.

PTAR membangun ekosistem mulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan petani, pembangunan nursery, rumah fermentasi, rumah pengering (dryer), hingga fasilitas hilirisasi yang mengolah biji kakao menjadi produk siap konsumsi.

Pada 2026, perusahaan menargetkan menyalurkan sekitar 19.000 bibit kakao kepada petani binaan di Kecamatan Batang Toru, Muara Batang Toru, serta mulai memperluas program ke Kecamatan Marancar.

Seluruh penerima manfaat ditetapkan berdasarkan data Calon Petani Calon Lahan (CPCL) yang dihimpun Balai Penyuluh Pertanian (BPP) bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), sehingga penyaluran bantuan dilakukan secara tepat sasaran.

Supervisor Agriculture Development PTAR, Ilham Perwira, mengatakan Batang Toru dan Muara Batang Toru pernah menjadi salah satu sentra kakao di Tapanuli Selatan. Namun, populasi tanaman terus mengalami penurunan sehingga diperlukan langkah nyata untuk mengembalikan kejayaan komoditas tersebut.

"Tujuan utama kami adalah mengembalikan Batang Toru dan Muara Batang Toru sebagai kawasan penghasil kakao. Dulu tanaman kakao sangat banyak dijumpai di wilayah ini, tetapi dari tahun ke tahun populasinya terus menurun. Karena itu kami ingin membangkitkan kembali potensi tersebut melalui penyediaan bibit unggul, pendampingan petani, dan pengembangan budidaya yang berkelanjutan," ujar Ilham saat ditemui di lokasi Martabe Cocoa, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Ilham, saat ini PTAR telah menyiapkan sekitar 7.000 bibit di nursery utama dan 12.000 bibit di nursery nonpermanen. Bibit itu menggunakan batang bawah unggul TSA 858 dan ICS 60 yang disambung dengan mata entres dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember agar menghasilkan tanaman yang lebih produktif dan berkualitas.

Selain menerima bibit secara gratis, petani juga memperoleh pendampingan mulai dari teknik pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, hingga penanganan pascapanen.

Untuk memperkuat rantai nilai kakao, PTAR turut membangun nursery, rumah fermentasi, dan rumah pengering sehingga hasil panen petani memiliki kualitas dan nilai jual yang lebih tinggi.

Program tersebut juga melibatkan pemuda lokal sebagai tenaga pendamping lapangan. Mereka dibekali pelatihan agar mampu mendampingi petani dari proses budidaya hingga pascapanen.

Salah satunya Ali Wahab Hutapea, warga Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batang Toru, yang kini menjadi pengelola Martabe Cocoa. Ia mengaku direkrut bersama sejumlah pemuda lainnya setelah bencana banjir bandang melanda wilayah itu pada akhir 2025.

"Setelah bencana, program ini sangat membantu kami. Dulu ada enam orang yang bergabung, sekarang tersisa empat orang dan semuanya merupakan pemuda asli Batang Toru. Kami diberi kesempatan bekerja sekaligus belajar sehingga memiliki bekal keterampilan untuk masa depan," katanya.

Menurut Ali, Martabe Cocoa membuka cara pandang baru bagi generasi muda bahwa kesempatan berkembang bersama perusahaan tidak hanya melalui sektor pertambangan.

"Kami belajar bahwa bekerja bersama perusahaan tidak harus di tambang. Ada program non-tambang yang memberikan ilmu yang bisa menjadi bekal seumur hidup. Selain Martabe Cocoa, ada juga program peternakan kambing dan ayam yang sama-sama membangun kapasitas masyarakat," ujarnya.

Sebelum menjalankan program di Batang Toru, Ali bersama rekan-rekannya mengikuti pelatihan intensif selama satu bulan di CPS Scorpio, Payakumbuh. Mereka mempelajari seluruh proses budidaya kakao, mulai dari pembibitan, sambung pucuk, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, teknik panen hingga pengolahan pascapanen.

Setelah kembali ke Batang Toru, PTAR menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti nursery, peralatan kerja, pupuk, dan sarana operasional lainnya agar para pengelola dapat mengembangkan pembibitan sekaligus mendampingi petani secara maksimal.

"Yang paling berharga bagi kami adalah ilmunya. Kami bisa berbagi pengetahuan kepada petani, mendampingi mereka, sekaligus menyalurkan bibit kakao. Nilainya tidak bisa diukur dengan materi," tutur Ali.

Upaya membangkitkan kakao Batang Toru tidak berhenti di tingkat budidaya. Di kawasan yang masih berada di sekitar lokasi Martabe Cocoa, PTAR juga membangun Rumah Cokelat sebagai pusat hilirisasi yang mengolah biji kakao hasil panen menjadi berbagai produk cokelat siap konsumsi.

Supervisor Business Development & Analyst PT Agincourt Resources, Selvy Wista, mengatakan Rumah Cokelat merupakan bagian penting dari pengembangan Program Martabe Cocoa karena menjadi pusat pengolahan hingga pengemasan produk.

"Rumah Cokelat ini merupakan fasilitas hilirisasi tempat pengolahan biji kakao menjadi berbagai produk cokelat hingga proses pengemasan. Melalui fasilitas ini kami ingin memastikan nilai tambah kakao dapat dinikmati masyarakat lokal," katanya.

Sementara itu, Pengelola Martabe Chocolate, Puspa Nurjannah, mengatakan produk cokelat yang dihasilkan kini mulai dikenal masyarakat dan telah dipasarkan ke sejumlah outlet.

Menurutnya, Martabe Chocolate sudah tersedia di Bagas Silua dan turut dipromosikan melalui stan PT Agincourt Resources pada ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di Medan.

Melalui Program Martabe Cocoa, PTAR tidak hanya berupaya mengembalikan Batang Toru sebagai salah satu sentra kakao di Tapanuli Selatan. Perusahaan juga membangun ekosistem kakao yang utuh, mulai dari pembibitan, budidaya, pendampingan petani, hingga hilirisasi menjadi Martabe Chocolate, sehingga nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian lokal secara berkelanjutan. ***

Baca Juga :
Wali Kota Bersama Wawako Sibolga dan H. Bakhtiar Ahmad Sibarani Hadiri Pagelaran Seni Budaya Kota Sibolga pada PRSU 2026, Promosikan Potensi Daerah

News Feed