Ambisi Besar di Tanah Danau: Samosir Didorong Jadi Sentra Bawang Putih, Siapkah Eksekusinya?
SAMOSIR.Mitanews.co.id ||
Pemerintah Kabupaten Samosir menggulirkan ambisi menjadikan wilayahnya sebagai sentra bawang putih nasional. Dukungan pemerintah pusat mulai digerakkan, namun pertanyaan krusial muncul: apakah kesiapan di lapangan benar-benar sejalan dengan besarnya target?
Kunjungan lapangan Bupati Samosir Vandiko T. Gultom bersama tim lintas kementerian ke Kawasan Pertanian Terpadu (KPT) menjadi penanda awal percepatan program tersebut. Tim yang hadir berasal dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II, ( 5/5 ).
Peninjauan difokuskan pada kesiapan infrastruktur dasar: irigasi, sumber air, hingga akses kawasan. Sejumlah titik air dipetakan untuk menopang rencana budidaya, sementara dukungan listrik dari Perusahaan Listrik Negara disiapkan untuk operasional pompa. Di saat yang sama, rencana pembangunan jembatan di kawasan KPT menjadi indikator bahwa proyek ini masih membutuhkan banyak pekerjaan dasar.
Target yang dipasang tidak kecil. Pemerintah menyiapkan lahan hingga 320 hektare untuk pengembangan bawang putih. Namun hingga kini, realisasi baru menyentuh sekitar 20 hektare di Desa Maduma, Kecamatan Simanindo. Sisanya—sekitar 300 hektare—masih dalam tahap rencana di kawasan Hariara Pintu.
Asisten Deputi Kemenko Pangan, M. Saleh, menegaskan pentingnya langkah konkret.
“Target kami akhir Mei sudah ada penanaman 5 hektare. Program ini tidak boleh berhenti di wacana,” ujarnya.
Ia juga menyoroti aspek yang kerap menjadi titik lemah: kesiapan petani. Tanpa pendampingan intensif dan penyuluhan berkelanjutan, target produktivitas hingga 20 ton per hektare berpotensi hanya menjadi angka di atas kertas.
“Lahan memang terlihat menjanjikan—relatif rata dan subur. Tapi keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh potensi, melainkan konsistensi pelaksanaan,” kata Saleh.
Bupati Samosir Vandiko T. Gultom menyatakan kesiapan daerah untuk mendukung penuh program tersebut. Ia menyebut pengembangan bawang putih sebagai bagian dari kontribusi daerah terhadap agenda nasional ketahanan pangan.
“Kami siap melengkapi seluruh kebutuhan pendukung dan berharap pendampingan terus diberikan. Ini komitmen kami dalam mendukung program strategis nasional,” ujarnya.
Namun di balik optimisme itu, pekerjaan rumah masih terbentang: infrastruktur yang belum sepenuhnya siap, kebutuhan listrik dan irigasi yang harus dipastikan berkelanjutan, serta kapasitas petani yang harus ditingkatkan dalam waktu singkat.
Ambisi menjadikan Samosir sebagai sentra bawang putih nasional kini bukan lagi soal rencana, melainkan soal pembuktian. Tanpa eksekusi yang disiplin dan pengawasan yang konsisten, proyek ini berisiko menjadi sekadar program berulang—besar di awal, memudar di tengah jalan.***
Baca Juga :
DPR RI dan BPJPH Kolaborasi Dorong UMKM Naik Kelas




















