oleh

Bupati Tapteng Sarankan Gubernur Edy Minta Maaf

-Daerah-2.582 views

Medan.Mitanews.co.id |
Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Bakhtiar Ahmad Sibarani menyarankan Gubernur Sumut, Edy Rahmyadi untuk meminta maaf

Hal itu disampaikan Bakhtiar terkait tindakan yang dilakukan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menjewer Pelatih Biliar Sumut, Khairuddin Aritonang.

Isu tersebut, kata politisi Nasdem Bakhtiar Ahmad Sibarani ini sudah jadi perhatian dan perbincangan di kancah nasional.

“Akan lebih bermartabat apabila Pak Gubernur Sumut Edy Rahmayadi meminta maaf kepada pelatih yang sudah ia permalukan pada kegiatan pembagian tali asih kepada atlet Sumut yang berprestasi saat PON di Papua,” ujar Bakhtiar Ahmad Sibarani lewat sambungan telepon, Selasa (28/12/2021).

Ia menyarankan kepada Gubernur Sumut untuk meminta maaf atas kejadian yang terjadi di Aula Tengku Rizal Nurdin.

“Saya hanya menyarankan kepada Pak Edy untuk meminta maaf. Karena menurut saya, mungkin saja memang pada saat kejadian pak Gubernur mungkin bercanda kepada pelatih tersebut dan orang menilai berbeda. Tapi kalau segera diluruskan serta bisa menyampaikan maaf itu jauh lebih bijak. Karena orang yang mengakui kesalahan jauh lebih hebat daripada orang yang selalu mencari pembenaran dari apa yang dibuatnya,” jelasnya..

Bakhtiar pun menyatakan sebagai seorang kepala daerah, harus bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

“Lagian dia turut hadir ke acara tersebut karena atletnya berprestasi. Sudah pasti dia pelatih yang bagus karena atlet yang ia bina bisa menyumbang medali untuk Sumut,” katanya.

Begitupun, sambung Bakhtiar, itu semua kembali kepada Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mau minta maaf atau tidak.

“Saya juga kepala daerah meskipun tingkat II, tapi sebagai pemimpin harus berjiwa satria. Tidak ada salahnya untuk meminta maaf atas perilaku yang sudah kita lakukan. Tapi itu saran saya. Semua kembali kepada Pak Edy sebagai Gubernur Sumut,” pungkasnya.

Karena, akunya, perilaku dan tindakan tersebut sangat tidak cocok dipertontonkan di masyarakat.

“Sangat tidak bijak hanya karena tepuk tangan, kita harus mempermalukan orang. Namun itu kembali kebesaran hati kita sebagai pemimpin yang mau minta maaf atas kesalahan kita,” pungkasnya.

Sebelumnya, Khairuddin Aritonang, pelatih Biliar Khairuddin Aritonang merasa heran ketika ia dipanggil Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan dijewer telinganya dalam kegiatan pemberian tali asih atau bonus kepada atlet Sumut peraih medali pada PON Papua.

Pria yang akrab disapa Coki ini pun dipanggil oleh Gubernur karena tidak tepuk tangan saat Edy Rahmayadi usai berpidato.

“Jadi semua atlet dan pelatih dipanggil dan berkumpul di Aula Tengku Rizal Nurdin,” katanya.

Lagi-lagi, Coki pun merasa heran kenapa dirinya dipanggil dan dimarahi di depan orang banyak hanya karena tidak tepuk tangan.

“Apa rupanya yang sudah dia (Edy Rahmayadi) berikan kepada insan olahraga terutama Biliar? ” katanya.

Ia pun mengaku saat itu, bukan hanya dirinya saja yang dimarahi di depan umum sama orang nomor satu di Sumut ini.

“Banyaklah. Ada Kadispora Sumut, ada juga Ketua KONI Sumut. Yang pasti bukan aku sendiri. Tapi itu tadi, aku heran, kenapalah aku dimarahi di muka umum hanya karena tidak tepuk tangan,” ujarnya.

Coki pun menyatakan bahwa setelah dimaki-maki, ia langsung keluar.

“Aku bingungnya, apa yang harus ditepuktangankan dari beliau. Toh omongan yang ia sampaikan semuanya biasa aja, jadi kenapa hanya karena tidak tepuk tangan, jadi kena marah di depan orang ramai,” kata Coki.

Coki pun mengaku selama Gubernur dipimpin oleh Edy Rahmayadi, tidak ada perhatian beliau terhadap insan olahraga.

“Tidak ada perhatiannya. Terutama kami di biliar. Apa yang sudah beliau beri? Enggak ada. Sehari-hari pun tidak ada perhatian kecuali saat ada even nasional seperti PON,” ujarnya.

Masih dikatakan Coki, semua peralatan biliar untuk latihan para atlet sudah jauh tertinggal. Terus, masih kata Coki, pidato Gubernur Sumut pun biasa saja dan tidak ada yang patut untuk diberi tepuk tangan.

“Marah-marah, maki-maki tak nyambung itu kan aneh. Emosional tidak jelas. Kalau marah-marah, maki-maki tapi dunia olahraga maju, ya bagus, ini kan tidak,” kesal Coki seraya menyatakan aneh la.

Ia pun berharap agar Gubernur Sumut harus memperhatikan cara bicaranya.

“Jangan asal bicara. Kalau sudah berbuat dan bicara, itu bisalah diterima. Ini, apa yang sudah diberikan? Perhatian yang bagaimana yang sudah ia salurkan? Hanya ada saat even besar seperti PON. Lainnya tidak ada,” katanya.

Mengenai apakah ia tertidur saat Gubernur Sumut Edy Rahmayadi tengah berpidato? Coki pun membantah hal tersebut.

“Saya tidak tertidur dan saya mendengar apa yang beliau sampaikan,” ujarnya. (mn.09)

Baca juga : LKKP Keadilan Minta BPJS Profesional Laksanakan Tugasnya

News Feed