oleh

Dari Visi Bobby ke Cetak Biru Dikky: Pembangunan Sumut yang Tak Lagi Retoris

-Daerah-304 views

Dari Visi Bobby ke Cetak Biru Dikky: Pembangunan Sumut yang Tak Lagi Retoris

Mitanews.co.id ||


Kepala Bappelitbang Sumatera Utara Dr. Dikky Anugerah Panjaitan, S.Sos., M.SP. tidak sedang menawarkan janji. Yang ia kerjakan justru sebuah cara kerja pembangunan: bagaimana gagasan besar Gubernur Bobby Nasution selama ini tidak berhenti sebagai narasi politik, melainkan telah lama dikunci dalam desain yang terukur dan kini bergerak di lapangan.

Paparan itu penting, bahkan strategis. Sebab, ia menjawab satu pertanyaan mendasar publik: apakah pidato-pidato Bobby Nasution—di forum resmi, pertemuan masyarakat, hingga pernyataan di media massa—sekadar retorika, atau benar-benar berangkat dari rencana yang matang?

Jawaban Dikky tegas: seluruh gagasan itu telah lama dibakukan dalam cetak biru pembangunan Provinsi Sumatera Utara.

Menurut Dikky, lima misi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara tidak dibiarkan mengambang. Seluruhnya telah diterjemahkan secara sistematis menjadi lima pilar pembangunan, yang kemudian diurai lagi menjadi 17 program prioritas.

Dari sana, perencanaan dilanjutkan ke level paling konkret: 53 Proyek Strategis Daerah yang dirancang komprehensif dan mulai dijalankan sejak 2025.

Inilah yang membedakan janji politik dari perencanaan pembangunan yang serius.

Dalam kerangka yang dipaparkan Bappelitbang, setiap proyek memiliki tahapan waktu yang jelas: ada yang dirancang tuntas di tahun pertama, sebagian di tahun kedua dan ketiga, hingga keseluruhan target keberhasilan yang diproyeksikan tercapai pada 2029, seiring masa kepemimpinan Bobby Nasution.

Konferensi pers awal 2026 itu dengan demikian bukan ajang peluncuran ide baru. Ia justru menjadi laporan terbuka tentang kemajuan sebuah peta jalan yang telah disusun sebelumnya. Tahun 2025 menjadi fase awal pelaksanaan, sementara 2026 diposisikan sebagai fase pematangan.

Beberapa proyek bahkan telah memperlihatkan hasil awal yang dapat dirasakan masyarakat.

Contoh paling kasat mata hadir pada misi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dua sektor kunci—pendidikan dan kesehatan—melahirkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).

Di bidang pendidikan, Program Bersekolah Gratis kini telah memasuki tahap implementasi, dimulai di Kepulauan Nias dan lima kabupaten/kota terdampak bencana, mencakup jenjang SMA, SMK, dan SLB. Di sektor kesehatan, UHC prioritas diwujudkan melalui layanan berobat gratis cukup dengan KTP—program yang telah berjalan sejak 2025 dan kini memasuki fase pemantapan.

Di titik ini, pembagian peran menjadi terang. Bobby Nasution tampil sebagai pemimpin dengan gagasan besar dan keberanian politik untuk menjadikannya prioritas.

Sementara Dikky Anugerah Panjaitan, bersama Bappelitbang, memastikan gagasan itu tidak menguap, melainkan mengendap menjadi dokumen perencanaan, sistem kerja, dan tahapan implementasi yang disiplin.

Relasi semacam ini tidak selalu hadir dalam praktik pemerintahan. Sering kali visi politik berjalan tanpa fondasi teknokratis yang kokoh, atau sebaliknya, perencanaan rapi kehilangan arah karena absennya kepemimpinan visioner.

Paparan Dikky justru menunjukkan keselarasan yang jarang: visi Bobby yang besar, dijaga konsistensinya melalui perencanaan yang ketat.

Ujian sesungguhnya tentu berada di lapangan. Publik akan menilai dari hasil, bukan dari presentasi. Namun satu hal kini menjadi jelas: pembangunan Sumatera Utara tidak berjalan dengan coba-coba. Ia bergerak dengan arah, tahapan, dan ukuran yang terang.

Dan dalam keterbukaan itulah, gagasan besar Bobby Nasution menemukan bentuknya—konkret, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan .(zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)***

Baca Juga :
Juliana, Kepsek SDN 002 Desa Rangsang Sekaligus Wakil Ketua BPD