oleh

Seorang Wartawan di Binjai Diintimidasi Gara-gara Soroti Bantuan Presiden Tidak Tepat Sasaran

-Daerah-189 views

Seorang Wartawan di Binjai Diintimidasi Gara-gara Soroti Bantuan Presiden Tidak Tepat Sasaran

BINJAI.Mitanews.co.id ||


Upaya menjalankan fungsi kontrol sosial dalam pengawasan penyaluran bantuan Presiden bagi masyarakat terdampak banjir di Kota Binjai berujung intimidasi terhadap seorang wartawan.

Insiden tersebut terjadi saat peliputan di Lingkungan V, Kelurahan Nangka, Kota Binjai, Jumat (2/1/2025).

Wartawan yang tengah melaksanakan tugas jurnalistik dilaporkan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sejumlah warga.

Beberapa orang melontarkan kata-kata kasar, bahkan sempat mendorong tubuh wartawan hingga situasi di lokasi memanas dan nyaris tak terkendali.

Korban intimidasi diketahui bernama Muhammad Handyka Pramudya. Ia mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba saat dirinya melakukan pendalaman informasi terkait penyaluran bantuan Presiden yang dilaksanakan di kediaman Kepala Lingkungan setempat.

"Saya datang sebagai wartawan untuk memastikan bantuan Presiden benar-benar diterima masyarakat sesuai haknya. Namun di lokasi justru saya mendapat intimidasi, dimaki dengan kata-kata kasar, bahkan ada yang mendorong tubuh saya. Situasinya sangat tidak kondusif,” ujar Handyka, melalui keterangan tertulis via WhatsApp Senin (5/1/2026).

Hingga kini, penyebab pasti aksi intimidasi tersebut masih ditelusuri. Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, insiden itu diduga kuat dipicu oleh provokasi oknum Kepala Lingkungan V Kelurahan Nangka, Muhammad Mansyur alias Aceng.

Handyka menuturkan, sebelum kejadian, dirinya tengah meliput dugaan penyelewengan bantuan Presiden yang menyeret nama Muhammad Mansyur. Dugaan tersebut disinyalir memicu reaksi keras di lapangan.

“Ada dugaan kuat intimidasi ini terjadi karena praktik pemotongan bantuan yang dilakukan oknum Kepling mulai terungkap. Masyarakat tidak mengetahui duduk perkaranya, namun saya justru menjadi sasaran. Padahal apa yang saya lakukan murni kerja jurnalistik,” tegasnya.

Sebelumnya, dugaan penyelewengan bantuan Presiden oleh Muhammad Mansyur telah menjadi perhatian publik. Bantuan yang seharusnya diterima utuh oleh warga terdampak banjir diduga dipangkas secara signifikan.

Berdasarkan data yang diperoleh, warga seharusnya menerima beras 15 kilogram, namun hanya diberikan sekitar 5 kilogram. Sementara gula sebanyak 4 kilogram, diduga hanya disalurkan 1 kilogram kepada penerima manfaat.

Ironisnya, dugaan penyelewengan tersebut disebut-sebut memperoleh dukungan dari Lurah Nangka, Mirza Mustaqim, sebagaimana pengakuan Muhammad Mansyur sendiri.

Ketika dugaan penyelewengan mulai terungkap ke publik melalui pemberitaan, wartawan yang menjalankan fungsi kontrol justru mengalami intimidasi. Peristiwa ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers dan transparansi penyaluran bantuan negara.

“Intimidasi terhadap wartawan tidak boleh dianggap hal biasa. Ini preseden buruk bagi demokrasi dan keterbukaan publik, khususnya dalam penyaluran bantuan negara,” tambah Handyka.

Hingga berita ini diturunkan, sejumlah pihak mendesak aparat kepolisian serta pemerintah daerah agar segera turun tangan melakukan penyelidikan menyeluruh, menindak tegas pihak yang terlibat, serta menjamin keselamatan dan keamanan insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.(mn.20)***

Baca Juga :
Rahmat Hidayat Siregar Dinilai Layak Masuk “Kabinet” Bobby Nasution