oleh

Progres Pembangunan Jembatan 80 Meter di Huta Ginjang Capai 40 Persen, Pengawas Jelaskan Material Bercampur Lumpur

-Daerah-74 views

Progres Pembangunan Jembatan 80 Meter di Huta Ginjang Capai 40 Persen, Pengawas Jelaskan Material Bercampur Lumpur

SAMOSIR.Mitanews.co.id ||


Tim wartawan Trisula Integritas menyambangi lokasi pekerjaan pembangunan jembatan sepanjang 80 meter di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Jumat (4/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, tim melihat langsung aktivitas pekerjaan konstruksi yang tengah berlangsung di lokasi.

Di lapangan, tim menemui pengawas proyek dari pihak kontraktor, Panggabean. Kepada wartawan, ia menjelaskan bahwa pekerjaan saat ini memasuki tahapan pengecoran dinding abutment pada sisi kiri dan kanan jembatan.
Menurut Panggabean, struktur abutment tersebut memiliki fondasi pada tiga sisi.

Setelah pekerjaan dinding abutment selesai, tahapan berikutnya akan dilanjutkan pada pekerjaan balok penghubung atau balok bentang (beam) yang menghubungkan abutment dengan plat injak (approach slab).

“Sekarang kami sedang memasang bekisting.
Ada tiga segmen pekerjaan yang akan dikerjakan, yaitu abutment, balok penghubung pada pertemuan abutment dengan plat injak, serta bagian-bagian struktur pendukung lainnya,” ujar Panggabean saat ditemui di lokasi.

Panggabean kemudian memperlihatkan gambar kerja proyek kepada tim wartawan. Berdasarkan penjelasannya, progres pekerjaan secara schedule saat ini telah mencapai sekitar 40 persen.

Pengawas Bantah Material Dibeli Dalam Kondisi Berlumpur

Di sisi lain, tim wartawan juga mengonfirmasi informasi yang sebelumnya beredar di media sosial terkait kondisi material agregat yang terlihat bercampur lumpur di lokasi pekerjaan.

Panggabean membantah apabila material tersebut sejak awal dibeli dalam kondisi berlumpur. Menurutnya, material yang digunakan dalam proyek didatangkan dari wilayah Dolok Sanggul melalui pemasok yang disebut memiliki izin produksi.
“Bukan material berlumpur yang kami beli,” kata Panggabean.

Ia menjelaskan, kondisi material yang kemudian terlihat bercampur lumpur terjadi akibat tingginya curah hujan pada saat material tiba dan ditumpuk di lokasi proyek.

Menurut dia, terdapat limpasan air hujan dari bagian jalan yang berada di atas lokasi penumpukan material. Air tersebut membawa tanah dan lumpur hingga masuk ke area material.

“Pada saat material masuk, curah hujan cukup sering. Limpasan air hujan dari jalan di atas lokasi membawa tanah dan lumpur ke tempat material. Jadi material kemudian terlihat bercampur lumpur. Bukan material berlumpur yang kami beli,” jelasnya.

Panggabean juga mengatakan material agregat yang digunakan dalam pekerjaan tersebut didatangkan dari Dolok Sanggul. Ia menyebut material tersebut berasal dari pemasok yang memiliki stasiun produksi dan perizinan produksi, melalui seorang pengusaha berinisial J yang disebut berdomisili di Kecamatan Nainggolan.

Ia kembali menegaskan bahwa kondisi material di lapangan menurut pihaknya lebih disebabkan faktor lingkungan dan limpasan air hujan, bukan karena pihak kontraktor sengaja membeli material dalam kondisi bercampur lumpur.

“Kalau hujan turun di sini, material apa pun yang bisa terbawa air akan ikut terbawa ke tempat penumpukan. Bahkan tanah dan lumpur dari arah jalan juga ikut terbawa,” ujarnya.

Perlu Verifikasi Mutu Material

Dari pantauan di lapangan, persoalan material yang terlihat bercampur lumpur menjadi salah satu hal yang patut mendapat perhatian dalam pekerjaan konstruksi tersebut. Sebab, kualitas dan kebersihan agregat merupakan bagian penting dalam menjaga mutu campuran beton dan memenuhi spesifikasi teknis pekerjaan.

Namun, kondisi material secara visual belum dengan sendirinya dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa mutu beton atau struktur jembatan tidak memenuhi spesifikasi. Untuk memastikan kualitas material dan hasil pekerjaan, diperlukan pemeriksaan teknis melalui pengujian laboratorium, pemeriksaan dokumen sumber material, serta pencocokan terhadap spesifikasi teknis dan persyaratan mutu yang ditetapkan dalam kontrak.

Keterangan pengawas proyek terkait asal material, proses pengangkutan, kondisi penyimpanan, hingga pengaruh limpasan air hujan juga menjadi bagian penting yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Pembangunan jembatan sepanjang 80 meter tersebut kini terus berjalan. Dengan progres yang disebut telah mencapai sekitar 40 persen, perhatian publik selanjutnya tidak hanya tertuju pada percepatan pekerjaan, tetapi juga pada kesesuaian metode pelaksanaan, mutu material, kualitas beton, serta kepatuhan seluruh pekerjaan terhadap gambar kerja dan spesifikasi teknis proyek.

Tim Trisula Integritas akan terus memantau perkembangan pekerjaan di lapangan serta melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk memperoleh informasi yang berimbang mengenai pelaksanaan proyek tersebut.***

Baca Juga :
Wapres Gibran Tinjau Huntap di Kota Sibolga, Wali Kota Serahkan Sertifikat Hak Milik dan Paket Sembako

News Feed